Jamaah An Nadzir
Waktu Salat pun Beda
Kamis, 11 Okt 2007 12:34 WIB
Gowa - Jamaah An Nadzir melakukan ibadah berdasarkan tanda-tanda dari alam. Waktu salat lima waktu jamaah ini pun berbeda. Waktu salat Dhuhur misalnya, mereka salat berdasarkan posisi bayangan. "Kami salat di akhir Dhuhur dan di awal Ashar. Maksudnya, kami salat saat bayangan kita di tanah sudah menjelang menjadi dua, atau sekitar pukul 15.00. Jadi pas kami selesai salat, bayangan kita di tanah sudah menjadi dua," urai Ustadz Lukman A Bakti, salah seorang pimpinan Jamaah An Nadzir di Kabupaten Gowa, Sulsel, Kamis (11/10/2007).Salat Ashar juga mereka lakukan saat bayangan sudah menjadi dua. "Jadi biasanya kami langsung sambung, salat Dhuhur dan salat Ashar," terang Lukman.Maghrib pun lain lagi. "Saat langit sudah memerah, itu berarti magrib telah tiba," kata Lukman. Usai cahaya kemerahan menghilang, maka awal Isya sudah masuk. Namun menurut Lukman, Nabi mensunahkan untuk salat Isya di dua per tiga malam. "Akhir waktu itu sekitar pukul 4 dini hari," kata ustadz yang juga bertitel insinyur ini.Sedangkan penentuan salat Subuh menurut Lukman, ditentukan pada pembagian waktu Fajar. "Ada yang dinamakan fajar ka'zib dan ada fajar shiddiq," ucap Lukman. Fajar ka'zib adalah waktu subuh yang dibolehkan untuk makan dan minum apabila dalam keadaan puasa. Dan fajar shiddiq adalah waktu yang dilarang makan dan minum apabila dalam keadaan puasa. "Salat sudah dilakukan saat fajar shiddiq, yakni sekitar pukul 05.00 dini hari," urainya.
(gun/djo)











































