Kehidupan Jamaah An Nadzir
Rumah Sederhana, Hidup Bertani
Kamis, 11 Okt 2007 12:11 WIB
Gowa - Jamaah An Nadzir memang 'berbeda'. Mereka menempuh hidup sederhana. Di Kelurahan Buttadidia, para anggota kelompok ini memilih berkumpul dalam satu kampung.Di kelurahan ini, ada 90 kepala keluarga yang merupakan anggota jamaah An Nadzir. Rumah mereka sebagian sama. Dinding-dinding rumah terbuat dari anyaman bambu dan atap berasal dari rumbai-rumbai.Meski sangat sederhana, rumah mereka nampak asri. Sebagian besar memelihara tanaman hias di depan rumahnya. "Memang beginilah kehidupan kami," ujar Malik, salah seorang anggota jamaah. Suasana pedesaan memang sangat kental di kampung ini.Di kampung ini, mereka telah menetap dua tahun. Para anggota jamaah ini awalnya banyak yang berasal dari kota-kola lain, seperti Jakarta dan Semarang. Mereka berkumpul dan membuat sebuat kampung. Tak sedikit pula yang dulunya adalah penduduk setempat, kemudian menyatu bersama mereka. Di kelurahan Buttadididia ini, perkampungan para jamaah ini terdiri dari empat blok. Setiap blok rata-rata terdiri dari 20 rumah.Jamaah An Nadzir kebanyakan hidup dari bertani. Luas lahan yang dimiliki oleh jamaah ini cukup luas, yakni sekitar 8 hektar. Mereka mengelola tanah ini dengan berkebun dan bertani. "Kebanyakan umbi-umbian, dan sayur-sayuran," papar Malik.
(gun/djo)











































