Pengemis Abal-abal dan Mafia Penyetok Gepeng

Pengemis Abal-abal dan Mafia Penyetok Gepeng

- detikNews
Rabu, 10 Okt 2007 09:11 WIB
Jakarta - Sebagian gelandangan dan pengemis yang membanjiri Jakarta belakangan ini bukanlah murni pengemis dan orang sangat miskin seperti yang dibayangkan.Menurut Walikota Jakarta Selatan Syahrul Effendi, pihaknya telah menciduk para pensuplai pengemis itu, tiga hari lalu. Tidak tanggung-tanggung, tiap suplier mampu menyetok hingga 150 gepeng."Mereka menarik pungutan (dari gepeng). Tiap hari Rp 15.000 hingga Rp 20.000. Untuk gerobak pemulung, nyewa dari pemulung beneran yang mudik," ujar Syahrul Effendi saat mendampingi Gubernur Fauzi Bowo meninjau jalanan Jakarta pada pukul 23.00 WIB hingga 02.00 WIB, Rabu (10/10/2007).Dalam pemeriksaan petugas trantib, pensuplai itu mengambil gepeng gadungan dari kantong kemiskinan di daerah Indramayu, Karawang hingga Garut. Tidak ada iming-iming berarti selain pendapatan uang berlebih usai mengais sedekah lebaran."Mereka membawanya bergelombang. Kami susah menjaringnya. Sudah ditertibkan, menjamur lagi," ucap Syahrul sedikit kesal.Nyatanya, gelombang pengemis itu merata di hampir seluruh wilayah tidak hanya di Jakarta Selatan. Melainkan di Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan Jakarta Utara. Kondisi makin memburuk bila memasuki ke lokasi tempat ibadah umat Muslim ataupun cukup di pinggir jalan. Pengemis itu membentuk pagar betis menengadahkan tangan mencari hujan receh. Meski, terkadang sedikit memaksa.Terlepas dari mana datangnya para gepeng itu dan hak untuk tinggal di Jakarta, pemandangan ini mengingatkan Perancis zaman Voltaire atau China era Mao Tse Tung. Kota-kota cantik di negeri itu diserbu pengemis karena di daerah sudah tidak ada lagi yang bisa diemis akibat kemiskinan yang kuatmelanda.Persamaanya dengan Jakarta orde Fauzi Bowo, 'kebijakan' penguasa tetap sama. "Saya akan tertibkan. Mereka belum punya KTP DKI," seloroh Foke dengan gaya khasnya. (Ari/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads