Buka dan Tahlil untuk Mahasiswa RI yang Meninggal di Sudan
Minggu, 07 Okt 2007 17:04 WIB
Khartoum - Buka puasa dan salat tarawih bersama yang digelar Kedutaan Besar RI (KBRI) Khartoum, Sudan diwarnai duka. Sebab, pada hari itu, salah satu mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Sudan, Amalia Nuruddin, meninggal dunia akibat penyakit Malaria akut. Dalam siaran pers KBRI Khartoum yang diterima detikcom, Minggu (7/10/2007), acara buka, tarawih, dan tahlil untuk (alm) Amalia Nuruddin itu digelar di halaman Wisma Duta, kantor KBRI, pada Jumat (5/10/2007) lalu. Acara diikuti oleh sekitar 200 WNI di Khartoum dan dihadiri Dubes RI Tajuddien Noor beserta keluarga. Acara ini juga diikuti para staf KBRI, para mahasiswa dan mahasiswi Indonesia, kalangan profesional perminyakan, serta WNI lainnya. Bertindak sebagai penceramah Ramadan adalah Ustad Sudirman Suparmin, MA, mahasiswa program S3 bidang Ushul Fiqih pada Islamic Omdurman University.Pelaksanaan kegiatan semacam ini selain untuk meningkatkan iman dan takwa juga untuk mempererat tali silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah antar WNI khususnya yang beragama Islam di Khartoum. Selain acara buka puasa dan salat tarawih bersama juga diadakan tahlil untuk (alm) Amalia Nuruddin, mahasiswa Indonesia angkatan 2005 pada Fakultas Adab jurusan Bahasa Arab, International University of Africa (IUA) yang wafat pagi harinya di hari yang sama di RS Ibrahim Malik. Amalia meninggal karena terkena malaria akut dan hepatitis C. Acara ini juga dihadiri oleh wakil dari Departemen Kepemudaan Council for International People's Friendship (CIPF),dan Rektor serta jajaran pimpinan International University of Africa (IUA) yang datang untuk menyampaikan duka cita atas meninggalnya Amalia Nuruddin kepada seluruh WNI di Khartoum melalui Dubes RI. Dubes RI dalam sambutannya menyatakan bahwa bulan suci Ramadan merupakan bulan pendidikan kemanusiaan dan bulan pembinaan diri bagi WNI yang beragama Islam di Sudan agar meningkatkan ketakwaannya kepada Allah SWT. "Pelaksanaan buka puasa bersama pada kesempatan kali ini memiliki hikmah yang dalam karena terkait dengan cobaan meninggalnya salah seorang mahasiswa Indonesia. Karenanya hari ini akan menjadi momentum yang akan dikenang oleh seluruh WNI di Khartoum," kata Dubes RI. Dalam kesempatan tersebut Dubes RI juga memuji peran serta WNI khususnya para mahasiswa yang telah membantu alm. Amalia Nuruddin sejak perawatan di RS hingga proses pemakamannya. Rektor IUA Prof. Omer Al Samanni menyampaikan bela sungkawa sedalam-dalamnya dari jajaran pimpinan dan staf serta mahasiswa/i IUA atas meninggalnya Amalia Nuruddin. "Saya sangat kagum dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri kebersamaan dan gotong royong masyarakat Indonesia di Khartoum dalam menghadapi takdir Allah hari ini dan tetap bisa melaksanakan ibadah Ramadan," kata Rektor IUA.
(asy/asy)











































