Survei LSI: Partai Islam Stagnan, Partai Sekuler Menguat

Survei LSI: Partai Islam Stagnan, Partai Sekuler Menguat

- detikNews
Jumat, 05 Okt 2007 22:43 WIB
Jakarta - Peringatan serius bagi partai-partai yang berbasis Islam di lontarkan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI). Sebab, partai Islam dinilai stagnan.Lewat direkturnya, Syaiful Munjani, kecenderungan masyarakat mendukung partai yang menjual doktrin-doktrin keagamaan kini stagnan, dan bahkan cenderung melemah. Dia mencontohkan partai yang berbasis Islam yaitu Partai Keadilan Sejahtera(PKS) dan Partai Persatuan Pembngunan (PPP) atau partai yang berbasis ormas Islam yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN)."Partai-partai Islam tersebut cenderung kehilangan arah untuk menerjemahkan wacana Islam ke dalam konsep yang lebih jelas," ujar Saiful dalam konfrensi pers di Hotel Sari Pan Pacific, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (5/10/2007).Kebih lanjut dia menjelaskan, meski orientasi nilai-nilai politik Islam cukup signifikan dalam masyarakat tetapi mereka cenderung enggan untuk masuk ke dalam partai. Hal tersebut dinilai LSI karena kegagalan penerjemahan nilai-nilai Islam oleh aktivis gerakan partai dan ormas."Dalam perspektif resource mobilization kegagalan manifestasi ini karena tidak berkembangnya mobilisasi sumber daya manusianya," tambahnya.Nah, berbeda dengan nasib partai Islam tersebut, partai sekuler malah bernasib sebaliknya yaitu cenderung menguat. Utamanya adalah terhadap tiga partai besar yakni Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat. Penguatan ini karena masyarakat lebih menilai kepemimpinan, jaringan, dan sumber daya manusia yang membuat nilai ke-Islam-an bergerak."Jadi bukan hanya melihat nilai Islam-nya semata," ujar pria berkacamata minus ini.Penelitian ini dilakukan terhadap 1.200 responden di seluruh Indonesia. Toleransi kesalahannya sebesar 2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen."Kalau partai Islam atau partai berbasis kelompok Islam tidak segera merubah arah perjuangannya, bisa-bisa mereka akan ditingggalkan pemilihnya," kata peneliti Freedom Institute Hamid Ba'asyib ditempat yang sama. (asp/nvt)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads