Warga Rawan Terkena Awan Panas Kelud Tolak Menggungsi
Kamis, 04 Okt 2007 15:40 WIB
Jakarta - Warga yang tinggal di daerah rawan Ring I sekitar perkebunan Swaluhbururoto Kecamatan Garum Kabupaten Blitar menolak untuk mengungsi. Meningkatnya aktivitas Gunung Kelud hingga mencapai status siaga level III tak membuat 36 kepala keluarga itu takut.Parahnya lagi, warga tidak memiliki persiapan cadangan makanan untuk antisipasi letusan gunung."Kami tidak akan meninggalkan rumah kami kendati Gunung Kelud meletus," kata Susilo Raharjo, warga Swaluhburuhroto, Kamis (4/10/2007).Kendati daerahnya masuk sebagai daerah ring I bahaya letusan Gunung Kelud itu tak membuat warga yang tinggal di lereng Kelud ini ketakutan.Padahal saat terjadi letusan tahun 1990 lalu, daerah yang hangus dilalap awan panas dua dusun yakni, Nglodok dan Ngamping, bahkan hilang terkena sapuan awan panas.Beruntung letusan saat itu hanya memakan korban jiwa 7 orang, sedangkan sisanya lebih memilih untuk meninggalkan rumah. Kini saat akitivitas Gunung Kelud kembali meningkat warga sekitar malah bersikukuh tidak akan meninggalkan rumah mereka."Pokoknya kami tidak akan mengungsi biar saja Gunung Kelud meletus kami tetap akan tinggal di rumah," tegas Raharjo saat dijumpai di rumahnya.Dijelaskan dia, penggalaman letusan terakhir sebenarnya cukup memberikan gambaran dahsyatnya letusan Gunung Kelud. Namun hingga saat ini semua warga yang tinggal di dusunnya tetap memilih untuk bertahan.Setiap malam, warga hanya mengadakan ronda keliling kampung dengan membawa oncor (sejenis obor yang terbuat dari batang bambu). Raharjo mengaku, tepatnya saat malam hari warga yang melakukan ronda selalu mendengar suara dentuman yang berasal dari kawah Gunung Kelud."Kami rasa dentuman itu merupakan letusan kecil dari gunung. Namun kami tetap tenang saja," tukasnya.Meski warga tetap nekad bertahan di desanya, namun persiapan untuk makanan sebagai cadangan ketika Gunung Kelud meletus tidak ada. Warga umumnya hanya mempersiapan makan yang terbuat dari jagung yang telah dijemur, selain cadangan makan juga berupa beras dan gaplek (sejenis tanaman ubi yang dikeringkan)."Kalau makan punya kami ya hanya jagung, gaplek dan beberapa kilogram beras," tukas Sri.Berita yang lebih lengkap mengenai kondisi Gunung Kelud, dapat Anda baca di DetikSurabaya.
(mar/mar)











































