Kartu Lebaran yang Kian Tergusur
Kamis, 04 Okt 2007 14:33 WIB
Palembang - Lima atau 10 tahun lalu, selama puasa Anda pasti akan menemukan para pembuat kartu Lebaran di pusat-pusat keramaian. Kini, mendapatkan seorang penjual kartu Lebaran, seperti di Palembang, sangatlah sulit. Ke mana mereka? "Saya sekarang kerja di percetakan. Wah, sudah 9 atau 10 tahun, aku tidak jualan kartu Lebaran lagi," kata Memeth (31), warga 5 Ulu, Palembang, dalam sebuah perbincangan dengan detikcom, Kamis (4/10/2007). Ditanya, apakah masih ingat dengan mereka yang biasa berjualan kartu Lebaran bersama dirinya, Memeth hanya tertawa, "Wah, sudah lupa semua. Itu kan teman-teman sekolah dulu. Apa masih ada yang mau beli kartu Lebaran?" katanya. Memeth merupakan salah seorang penjual kartu Lebaran di Palembang yang cukup dikenal. Ini lantaran kartu Lebaran yang dibuat Memeth cukup menarik. Sebab dia membuat lukisan abstrak dengan teknik tiup pada setiap kartu. Lalu, dia juga tambahkan bait puisi yang dibuat secara spontan, berdasarkan permintaan pembelinya. Saat itu, harga kartu Lebaran milik Memeth cukup mahal yakni berkisar Rp 500-750 per lembar. "Wah, saya dulu banyak duit, makanya sering minggat dari sekolah hanya buat jualan kartu Lebaran. Tapi, akhirnya jadi tukang sablon ini," lanjutnya. Dulu, Memeth biasa berjualan kartu Lebaran di kaki lima Jalan Jenderal Sudirman Palembang, tepatnya di depan Toko Marathon. Dia cukup membentangkan selembar tikar, lalu membawa cat air, kertas, dan pernik-pernik penghias kartu. Sejak adanya internet dan jasa SMS pada telepon, kartu Lebaran tergusur. Orang cukup mengirim SMS atau surat melalui email. Tapi, rasanya ada yang hilang setiap melihat dinding pintu atau papan tulisan di rumah, yang biasanya dipenuhi kartu Lebaran.
(tw/djo)











































