Terlalu! Patung Buddha Diolok-olok
Rabu, 03 Okt 2007 17:27 WIB
Norwich - Sekilas, tidak ada yang salah dengan patung Buddha ini. Namun dia menjadi pusat perhatian di sebuah pameran seni. Setelah diamat-amati, oalah... ada dua telur dan satu pisang yang mencuat di pangkuan patung tersebut. Terlalu!Dengan penampilan yang terlihat nyeleneh, patung Buddha tersebut lebih banyak ditengok pengunjung salah satu galeri di Norwich, Inggris, tersebut, ketimbang hasil seni lainnya yang ikut dipamerkan.Hasil seni yang bisa dilihat di pameran tersebut adalah patung Yesus yang disalib dan juga Dewa Hindu Ganesha yang duduk berdampingan dengan helm Nazi. Namun hanya patung Buddha tersebut yang terkesan memberi imej negatif.Hal sensitif ini tentu saja mengundang protes dari umat Buddha. Mereka meminta patung yang terbuat dari perunggu tersebut diturunkan dari pameran. Perwakilan Pusat Umat Buddha Norwich, Tom Llewellyn mengecam keras keberadaan patung tersebut."Saya tidak berpikir itu ada nilainya atau sebuah karya. Jelas-jelas itu bermaksud untuk memprovokasi," kecamnya.Kekesalan umat Buddha itu membuat polisi turun tangan. "Kami menerima aduan bahwa di pameran tersebut terdapat patung relijius yang mengolok-olok sebuah agama," kata perwakilan polisi setempat.Polisi kemudian meminta kepada pemilik galeri, David Koppel, agar patung seharga 125 ribu poundsterling itu 'dipecat' keikutsertaannya dari pameran . Meski dengan perdebatan alot, akhirnya David setuju patung Buddha berwarna hitam tersebut keluar dari ruang galeri."Polisi mengancam akan menyita patung tersebut dan menahan saya jika itu dipertunjukkan di depan publik. Saya, untuk saat ini, setuju menurunkannya dari lemari pajangan," kata David seperti diberitakan Ananova, Rabu (3/10/2007).Namun itu hanya sementara. David berjanji, setelah kembali dari liburannya, dia akan mengembalikan patung kontroversial itu ke pameran dengan penuh sukacita. "Patung itu akan dipajang di jendela menghadap ke jalan," tantang David.Lalu apa tanggapan si pembuat patung? Colin Self hanya menanggapi enteng hasil karyanya dilengserkan. "Salah satu inti dari sebuah karya adalah bagaimana, di sebuah desa yang maju yang perbedaan budayanya membaur, Anda tidak bisa tidak membuat orang kecewa, di mana dan bagaimanapun," kelitnya.
(ana/sss)











































