Ribuan Pelayat Lepas Kepergian KH Muhaiminan Gunardo
Rabu, 03 Okt 2007 13:20 WIB
Temanggung - Ribuan pelayat melepas kepergian KH Muhaiminan Gunardo (74), pendiri Pondok Pesantren Kiai Parak Bambu Runcing, Parakan Kabupaten Temanggung. Deklarator Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) ini di makamkan di kompleks pemakaman Ponpes Kiai Parak di Kauman Parakan tidak jauh dari kediamannya.Sejak pagi hingga menjelang pemberangkatan jenazah, para pelayat terus memenuhi kediaman almarhum. Mereka datang dari berbagai daerah untuk mengucapkan bela sungkawa serta memberikan doa. Hadir di antaranya Ketua Dewan Syuro PKNU, KH Abdurrahman Chudlori serta beberapa kiai sepuh NU seperti KH Abdul Hamid Baedhowi dari Lasem, Rembang, KH Chasbullah Badawi dari Cilacap, KH Ahmad Warsun Munawwir dan KH Zainal Abidin Munawwir dari Ponpes Al Munawwir Krapyak Yogyakarta.Salah seorang putra almarhum, Chaedar, mengatakan ayahnya meninggal dunia, Selasa (2/10/2007), sekitar pukul 17.45 WIB di kediamannya. Almarhum sudah beberapa lama menderita sakit, di antaranya sesak nafas sehingga banyak mengurangi kegiatan di luar pondok. Almarhum juga sudah beberapa kali berobat di RS Kariadi Semarang dan menjalani terapi pengobatan alternatif di beberapa tempat di Salatiga. KH Muhaiminan meninggalkan seorang istri, Hj Jayidah dam 6 orang anak, yakni, Suad Jauharoh, Kautsar, KH Chaedar, Hanif (almarhum), Nauval dan Baha.Menurut Chaedar, almarhum tidak banyak meninggalkan pesan. Dia hanya menekankan kepada para santri dan keluarga agar saling menghormati dan menjauhkan dari hal-hal kekerasan bila tidak terpaksa. Almarhum juga meminta para santrinya untuk selalu mematuhi petunjuk orang yang ali."Tak ada pewaris Nabi ngajak barang olo (kekerasan) itu. Murid mau pintar ya harus ndherek (ikut) guru. Mau memahami agama ya harus ndherek kiai. Orang sakit kalau ingin sembuh ya harus menuruti perintah dokter," kata Chaedar menirukan ucapan ayahnya. Selain menjabat sebagai Ketua Tariqot Sadzaliyah, di kancah politik KH Muhaiminan menjabat sebagai Dewan Mustasyar (Penasehat) PKNU. Sebelumnya, beliau pernah menjabat sebagai anggota Dewan Syuro PKB.Kawan dekat almarhum, KH Abdurrahman Chudlori dari Ponpes Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang, menyatakan kesedihan mendalam dengan meninggalnya KH Muhaiminan Gunardo. "Almarhum adalah orang yang halus dan berilmu tinggi, namun juga orang yang teguh pendirian. Orang yang istiqomah dalam semua bersikap dan menjadi rujukan para kiai untuk bertanya," kenang Mbah Dur panggilan akrabnya.
(bgs/djo)











































