Stigma Indonesia Surga Gerakan Radikal Disesalkan

Stigma Indonesia Surga Gerakan Radikal Disesalkan

- detikNews
Rabu, 03 Okt 2007 00:17 WIB
Jakarta - Kekerasan demi kekerasan yang dilakukan berbagai kelompok yang mengatasnamakan Islam menimbulkan persepsi bahwa Indonesia sebagai surga kaum Islam radikal. Stigma seperti ini tidak menguntungkan dan disesalkan sejumlah tokoh muslim di Indonesia, terutama pasca bom Bali tahun 2002 lalu."Sayangnya citra buruk ini kemudian disematkan kepada umat Islam yang ada di Indonesia secara keseluruhan," kata Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam Seminar Tentang Suburnya Gerakan Islam Garis Keras di Universitas Paramadina, Jl Gatot Subroto, Mampang, Jakarta Selatan, Selasa (2/10/2007).Dalam kesempatan itu, Haedar menyayangkan, adanya stigma pihak barat terhadap dunia Islam yang digambarkan sebagai dunia teroris. Stigma ini justru tidak hanya tidak tepat, tapi juga sangat menyesatkan, terutama bagi orang yang sangat awan terhadap ajaran Islam yang benar. Sementara itu, mantan Panglima Laskar Jihad Djafar Umar Thalib dalam kesempatan yang sama mengatakan, kelompok radikal yang tumbuh di Indonesia hanya mendompleng nama agama. Kelompok berlabel agama Islam justru digunakan sebagai pembenaran ajaran mereka. Lebih lanjut, Djafar menyebut nama Abu Bakar Ba'asyir yang dinilainya berpaham radikal dengan membuat kelompok yang mengatasnamakan Islam. "Padahal kelompok-kelompok itu tidak It'tiba, yaitu dalam mengikuti ajaran Rasulullaw SAW," tegas Djafar.Kembali Djafar menuding, pemahaman Abu Bakar Ba'asyir yang cenderung ekstrim ini. "Saya memahami pemahaman dia itu, makanya harus ada diskusi tentang pemahaman itu. Saya pernah ajak debat soal itu, tapi mereka menolak dan malah mempersoalkan saya sebagai agen intelijen BIN. Ya saya tidak mau urusan isu-isu politik seperti itu," jelasnya.Kenapa kelompok seperti ini subur di Indonesia, menurut Djafar, justru diakibatkan kurang serius dan kurang tegasnya aparat hukum pemerintah untuk mengeliminir kelompok radikal ini. "Ini yang seharusnya dieliminir oleh aparat penegak hukum, keamanan dan MUI sendiri agar menghindarkan potensi kerusuhan yang terus mengintai akibat gerakan dan kiprah mereka. Ini harus ada tindakan dan pembahasan yang komprehensif tentang pemahaman yang sesat dan ekstrim ini," tandasnya.Agar masyarakat atau umat Muslim tidak mudah terpengaruh doktrin kelompok radikal, jelas Djafar, yang pertama adalah peran ulama yang harus lebih gencar mensosialisasikan permahaman Islam yang benar. Kedua, harus ada upaya untuk membantah atau mengcounter pemahaman seperti itu. (zal/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads