Ke Manakah Para Biksu Myanmar?

Ke Manakah Para Biksu Myanmar?

- detikNews
Selasa, 02 Okt 2007 17:55 WIB
Bangkok - Setelah mencuri perhatian dunia karena memimpin demonstran berunjuk rasa di Myanmar, para biksu entah di mana keberadaannya.Situasi di Yangon, Myanmar telah berangsur pulih setelah demonstran rusuh dengan tentara sehingga menewaskan 13 orang, termasuk biksu dan seorang jurnalis Jepang.Warga sipil telah memulai kembali aktivitasnya, bahkan sudah bisa kembali menunaikan ibadah di Kuil Shwedagon yang sempat ditutup tentara.Namun para biksu dengan penampilan khas jubah marunnya itu tidak terlihat lagi. Kuil dan biara telah kosong dari keberadaan para biksu. Ke manakah mereka?Disebutkan para biksu senior diperintahkan pulang kampung, dan komunitas biksu dibubarkan junta Myanmar. Mereka ditangkapi dan dipukuli. Bahkan yang mencengangkan adalah beredarnya foto jasad biksu yang mengambang di sungai.Sementara pejabat PBB dan Myanmar kepada AFP, Selasa (2/10/2007) mengungkapkan, sekitar 1.000 orang ditahan pasukan keamanan di sebuah kampus di Yangon. Namun mereka direncanakan akan dipindahkan ke lokasi lain di luar Yangon.Pejabat senior PBB menyatakan keprihatinannya atas laporan yang menyebutkan para tahanan, termasuk 500 biksu, melakukan mogok makan.Sedangkan pejabat Myanmar menuturkan, lebih dari 1.700 orang ditahan di kampus Institut Teknis Pemerintah. Grup itu meliputi sekitar 200 wanita, dan seorang biksu berusia 10 tahun.Mereka ditempatkan di dalam gudang tidak berjendela dan tanpa fasilitas sanitasi alias MCK. Para biksu dilucuti pakaiannya dan kebanyakan dari mereka menolak makan.Tony Banbury, Direktur Regional Asia Badan Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) di Bangkok, Thailand, menyampaikan pihaknya telah menerima konfirmasi sekitar 1.000 orang ditahan di kampus tersebut, persisnya di Banbury yang digambarkan sebagai barak militer."Ada laporan sekitar 1.000 orang, termasuk biksu dan pelajar telah dipindahkan dari barak-barak tersebut ke lokasi yang tidak diketahui. Tentu saja ini menjadi keprihatinan mengenai apa yang akan terjadi pada mereka," kata Banbury. (sss/ana)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads