Gaya Hidup Mengubah Pola Berbuka Puasa
Senin, 01 Okt 2007 14:23 WIB
Jakarta - Karena kesibukan, kerap sekali berbuka puasa dilakukan di jalan ataupun di kantor. Berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang manis seperti es kelapa atau kolak bakal sulit dilakukan.Itulah tuntutan pekerjaan membuat gaya hidup menjadi berubah, termasuk gaya berpuasa. Saat ini, ketika adzan Maghrib berkumandang, masih banyak umat muslim yang terhambat di jalan, atau bahkan tengah berpacu dengan pekerjaan. Akibatnya berbuka seadanya dan seringkali mengabaikan dengan apa yang diminum. Biasanya minuman yang diminum adalah minuman kaleng, ataupun minuman suplemen. Lalu bagaimana kah, pengaruh minuman kaleng ini secara kesehatan? Untuk itu kita harus melihat kandungannya yang biasa tertera dalam di minuman tersebut."Selalu perhatikan kandungan gizi dan dampak kesehatan untuk minuman yang dikonsumsi saat buka puasa terutama yang tidak dimasak di rumah, misalnya minuman kaleng, suplemen, kue, makanan ringan dan sebagainya," jelas Ketua Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman (PIPIMM) Suroso Natakusuma saat dihubungi detikcom, Senin (1/10/2007).Menurut Suroso, masyarakat yang sibuk membawa konsekuensi mengkonsumsi minuman yang siap saji saat buka puasa. Untuk itu, konsumen harus awas dan waspada terhadap banyaknya minuman dan makanan siap saji yang dijual luas. "Selalu perhatikan kandungan isinya, dan pastikan minuman tersebut tercatat di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga aman dikonsumsi," tuturnya.Aturan mengkonsumsi menurut Suroso juga sangat penting. Apalagi menjelang pulang mudik, banyak sekali pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi untuk perjalanan yang cukup panjang. Seringkali untuk memperkuat kondisi fisik, pemudik mengkonsumsi berbagai suplemen dan sejenisnya. "Tentunya harus dilihat dan disesuaikan kebutuhan. Cara mengkonsumsinya juga harus benar dan sesuai aturan yang dianjurkan," tukasnya.Suroso menyatakan konsumen harus selalu waspada dan kritis terhadap berbagai informasi terkait makanan dan minuman. "Seringkali berbagai isu yang seolah-olah informasi menyebar kemana-mana bahwa sebuah produk berbahaya untuk dikonsumsi, padahal informasi tersebut bohong," jelasnya.Imbauan Suroso ini terkait dengan adanya selebaran serta isu yang beredar di internet beberapa waktu yang lalu, yang bersumber dari surat RSAL Ramelan Surabaya mengenai beberapa produk minuman yang dinyatakan berbahaya karena mengandung siklomat (siklamat). Namun kemudian RSAL Ramelan mengeluarkan bantahan dan menyatakan bahwa surat tersebut palsu. Mereka juga tidak pernah menyatakan bahwa produk-produk tersebut berbahaya. Informasi ini diperkuat dengan penjelasan dan rilis dari BPOM yang menyatakan bahwa produk-produk tersebut aman dan zat yang terkandung di dalamnya sesuai dengan yang dipersyaratkan BPOM.Memang pada dasarnya yang harus selalu diingat oleh konsumen adalah mengkonsumsi makanan dan minuman secara benar dan sesuai takaran. Sementara untuk suplemen, selain melihat kandungan zat-zat yang ada di dalamnya juga harus diperhatikan aturan penggunaannya, terutama jika memiliki penyakit tertentu.
(mar/mar)











































