Seribuan Orang Hilang, Kisah Myanmar Sulit Dikorek
Senin, 01 Okt 2007 17:30 WIB
Bangkok - Myanmar mencekam. Dunia sulit mengetahui perkembangannya karena jaringan internet diputus junta militer. Entah berapa yang sudah tewas. Tapi tercatat 1.000-an orang hilang.Data orang hilang itu disampaikan kelompok-kelompok HAM seperti dilaporkan AFP dari Bangkok, Thailand, Senin (1/10/2007).Pasukan keamanan telah melancarkan operasi penyerbuan pada malam hari untuk menciduk para biksu dan anggota Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi. Tokoh pejuang demokrasi ini menjalani tahanan rumah selama 18 tahun terakhir.Para diplomat asing meyakini paling tidak ratusan biksu dan aktivis telah diciduk pasca beberapa hari kerusuhan di Yangon, Myanmar."Sekitar 85 pemimpin aksi, lebih dari 1.000 biksu, serta 300-400 pelajar dan aktivis ditahan," kata Bo Kyi, Sekretaris Assistance Association for Political Prisoners (AAPP) yang berbasis di Thailand.Disebutkan AAPP, para biksu yang menjadi pimpinan aksi demonstran di Myanmar dilucuti jubahnya, dipukuli, ditendangi, dan dicerca oleh tentara dan milisi.Asian Human Rights Commission (AHRC) yang berbasis di Hong Kong menyebutkan, sekitar 700 biksu dan 500 warga sipil ditangkap dan dibawa entah ke mana.Sulit mengorek informasi resmi dari pemerintahan junta Myanmar. Tercatat 13 orang tewas, termasuk biksu dan seorang jurnalis Jepang. Namun diyakini jumlah korban tewas lebih banyak lagi."Kami mendengar cerita penyerbuan setiap malam. Tapi pagi harinya, sulit mencari konfirmasi. Mereka telah membungkam para biksu," kata seorang diplomat asing di Yangon.Kuil dan biara telah kosong. Para biksu senior diperintahkan pulang kampung. Komunitas biksu dibubarkan. Sulit mengetahui biksu mana yang telah hilang. Kisah tentang perjuangan mereka mengecap demokrasi pun ditelan kebisuan.
(sss/ana)











































