Sopir Taksi Plat Hitam Bandara Adisucipto Demo

Sopir Taksi Plat Hitam Bandara Adisucipto Demo

- detikNews
Senin, 01 Okt 2007 12:46 WIB
Yogyakarta - Sopir taksi plat hitam Bandara Adisucipto Yogyakarta demo menuntut diperbolehkan kembali bekerja. Mereka juga menuntut agar counter resmi mereka yang ditutup pengelola bandara dibuka lagi.Aksi yang dilakukan anggota Paguyuban Pengemudi Sani Rentelindo itu dilakukan di lobby bandara di sebelah timur pintu kedatangan penumpang. Dengan mengenakan seragam baju batik dan membawa kartu pas bandara, mereka langsung menggelar orasi dan mengusung sejumlah poster.Beberapa poster diperlihatkan di lobby kedatangan sehingga sempat menarik perhatian beberapa penumpang yang baru tiba di bandara. Aksi yang berlangsung sejak pukul 10.45 WIB, Senin (1/10/2007) itu berjalan dengan tertib dan tidak mengganggu para penumpang pesawat. Beberapa petugas keamanan bandara yang berpakaian preman hanya berjaga-jaga di sekitar tempat aksi.Salah seorang peserta aksi, Firmansyah, dalam orasinya menuntut agar PT Angkasa Pura I kembali mengizinkan pengemudi taksi plat hitam anggota Paguyuban Sani Rentelindo beroperasi di bandara. Sebab kartu pas yang dimiliki anggota masih berlaku hingga akhir tahun 2007, tapi sejak tanggal 27 September mereka dilarang masuk bandara oleh pihak Angkatan Udara (AU).Setelah ditutupnya counter resmi di lobby bandara, kata Firman, semua sopir taksi Sani Rentelindo juga tidak diperbolehkan masuk bandara. Namun setelah itu justru muncul taksi plat hitam lain dengan sopir-sopir baru yang direkrut melalu koperasi Kokapura Avia."Tuntutan kami supaya sopir plat hitam boleh bekerja lagi seperti biasa, sebab kami beroperasi di sini atas izin Angkasa Pura I. Bukan gelap dan semua pegang kartu pas bandara yang masih berlaku," kata Firman sambil menunjukkan kartu pas yang masih berlaku.Menurut dia, diputusnya kontrak dengan Angkasa Pura I setelah terjadi konflik manajemen CV Sani Rentelndo yang membawahi paguyuban sopir taksi plat hitam bandara. Sopir yang tak tahu-menahu masalah itu diseret-seretmasuk dalam perpecahan antara direktur utama dengan direktur operasional berkaitan dengan pengelolaan keuangan. "Mobil kami saat tidak boleh parkir di dalam bandara dan harus parkir diluar jauh dari pintu kedatangan," keluh dia.Dia mengatakan dicabut hak operasi di bandara membuat anggota paguyuban yang berjumlah 20-an orang itu pusing tujuh keliling. Sebab, mobil-mobil yang digunakan beroperasi sebagian besar adalah mobil kreditan. Sebagian besar mobil itu keluaran baru tahun 2006 dengan berbagai jenis dan merek. "Semua masih baru dan gres, kami pusing keluarga akan makan apa dan bagaimana nanti bayar cicilan kredit mobil," kata Firman. (bgs/asy)


Berita Terkait