Pemimpin Junta Thai: Myanmar Tak Sudi Reformasi
Senin, 01 Okt 2007 12:02 WIB
Bangkok - Thailand dan Myanmar sama-sama negara yang dipimpin junta militer. Thailand mengetahui Myanmar tidak akan melakukan reformasi meski sedang bergejolak menghadapi tuntutan demokrasi."Pemimpin militer Myanmar punya pendirian sendiri. Mereka tidak mungkin berubah. Tekanan apapun agar ada demokrasi di Myanmar akan menghadapi kesulitan," kata pemimpin junta Thailand, Jenderal Sonthi Boonyaratglin.Pernyataan pria yang tahun lalu memimpin kup militer tanpa pertumpahan darah untuk menggulingkan PM Thaksin Shinawatra ini disampaikan dalam wawancara dengan televisi lokal dan dilansir AFP, Senin (1/10/2007).Myanmar, lanjut Sonthi, telah mengembangkan rezim militernya sendiri dalam waktu yang cukup lama untuk melindungi kepentingan nasionalnya.Menhan Thailand Boonrawd Somtas juga berpendapat sama. Gonjang-ganjing di Myanmar tidak akan membawa perubahan politik di Myanmar yang telah dikuasai junta sejak tahun 1962 itu."Aksi antijunta kini mulai lenyap, dan mereka tidak akan membawa perubahan di Myanmar, kecuali China, India, dan Rusia memberi tekanan serius kepada junta Myanmar," kata Boonrawd.Demo antijunta digelar sejak 19 Agustus 2007 gara-gara kenaikan harga BBM hingga 500 persen. Aksi kemudian dipimpin biksu hingga 100 ribu orang turun ke jalan pekan lalu.Tuntutan demonstran dibalas aksi kekerasan militer Myanmar. 13 Orang meregang nyawa, termasuk para biksu dan seorang jurnalis Jepang. Ratusan orang ditahan.
(sss/ana)











































