Myanmar di Pusaran Negara Adidaya, Indonesia Harus Hati-hati

Myanmar di Pusaran Negara Adidaya, Indonesia Harus Hati-hati

- detikNews
Minggu, 30 Sep 2007 12:39 WIB
Jakarta - Indonesia harus hati-hati menyikapi konflik di Myanmar. Sikap hati-hati ini penting agar Indonesia tidak terjebak dalam permainan negara-negara besar yang sedang memperebutkan posisinya di negara yang memiliki potensi 0,3 persen cadangan gas alam dunia itu."Awalnya memang Myanmar hanya masalah internal. Tapi banyaknya negara-negara besar yang bermain, dari mulai Cina, Amerika dan Rusia, Indonesia harus hati-hati dalam bersikap. Jangan sampai Indonesia bernyanyi dan menari di atas irama orang lain," cetus Wakil Ketua Komisi Pertahanan dan Luar Negeri DPR Yusron Ihza Mahendra pada detikcom, Minggu (30/9/2007).Namun demikian, kehati-hatian Indonesia harus dibarengi langkah konkrit dengan mendorong terciptanya demokrasi di Myanmar. Berkembangnya demokrasi di Myanmar tidak hanya menguntungkan negara ASEAN, tapi juga akan menambah stabilitas perdamaian di kawasan ASEAN."Berikan dukungan bagi demokrasi di Myanmar. Kalau perlu dengan menggunakan kekuatan diplomasi sebagai negara besar di ASEAN," kata politisi PBB itu.Menurut Doktor lulusan universitas di Jepang ini, posisi Myanmar sangat strategis bagi negara-negara tetangganya. Wajar jika ada negara-negara yang tetap menginginkan junta militer tetap berkuasa."Potensi 0,3 persen deposit energi gas alam dunia ini membuat banyak negara yang ingin tetap mempertahankan junta militer berkuasa. Selain itu Myanmar juga bisa dijadikan jalur pendek minyak dari Timur Tengah ke Cina. Apalagi di Teluk Benggala diduga mengandung cadangan minyak yang cukup besar," terang adik kandung mantan Mensesneg Yusril Ihza Mahendra itu.Untuk itu, Yusron meminta pemerintah Indonesia waspada dengan berkembangnya kekuatan-kekuatan baru di sekitar Indonesia. "Bisa kena sikat juga kita kalau tidak hati-hati dalam bersikap," pungkasnya. (yid/aba)


Berita Terkait