3 Kasus Dugaan Malpraktik Dokter Dilapor ke Polda

3 Kasus Dugaan Malpraktik Dokter Dilapor ke Polda

- detikNews
Sabtu, 29 Sep 2007 19:20 WIB
Jakarta - Polda Metro Jaya kembali menerima pengaduan masyarakat yang menjadi korban dugaan malpraktik yang dilakukan sejumlah dokter di beberapa rumah sakit. Mereka merupakan pasien yang menjalani berbagai tindakan medis.Setidaknya Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya, Sabtu (22/9/2007) menerima keluarga pasien yang mengalami malpraktik.Mereka datang dengan didampingi oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kesehatan yang dikoordinatori Iskandar Sitorus.Ketiga keluarga pasen yang menjadi korban, yaitu Bachtiar Marpaung, suami dari Netty Nainggolan yang melaporkan dugaan malpraktik yang dilakukan oleh 3 dokter di RS SM, Cisalak, Depok. Bachtiar mengadukan nasib bayinya yang dirawat di rumah sakit itu hingga meninggal."Selama perawatan bayi kami, pihak dokter tidak komunikatif tentang kondisi kesehatan hingga meninggal. Kami juga tidak pernah diberitahukan soal pergantian dokter," kata Bachtiar.Menurut Bachtiar, istrinya pada tanggal 13 Agustus 2007 telah melahirkan seorang bayi melalui operasi cesar pada pukul 14.56 WIB oleh dr RI. Bayi perempuan yang beratnya 1.900 gram dan panjang 42 cm ini diduga mengalami kelainan. Sehingga harus masuk inkubator, head box dan diinfus.Saat itu bayi Ny Netty sendiri ditangani dokter anak dr HM, tapi tiba-tiba penanganan diganti oleh dr AK. Bachtiar sendiri mengaku tidak mendatakan informasi yang benar kondisi kesehatan bayinya itu."Saat itu kita hanya diinformasikan bayi malas minum dan demam sejak hari minggu. Resume medis yang dilakukan dokter juga tidak jelas dan terkesan malas," tandasnya.Lain lagi nasib Lim Sie Siung yang mengadukan nasib istrinya Mina alias Eni (26) yang menjalani operasi tumor di perutnya ini. Warga Jl Tambora III/45, Tambora, Jakarta Barat ini menceritakan awal penyakit yang diderita sang istri.Mina yang didampingi Lim pada tanggal 22 Juni 2007 berobat ke RS P di Jakarta Barat karena mengeluh sakit mengeluarkan dahak berlebihan. Saat itu, dr BI mendiagnosa Mina menderita bronchitis kronis dan mengarah pada pneumonia.Dokter itu beri sejumlah obat. Namun Mina saat itu tidak tahu efek samping dari mengonsumsi obat, karena diduga dirinya sedang hamil. Ternyata satu bulan kemudian dia dinyatakan hamil."Kami ke RS F ketemu sr JH untuk cek kondisi kandungan yang sudah masuk tiga minggu. Ternyata janin dinyatakan tidak berkembang karena sering minum cravit," ujar Lim.Lalu, Mina dianjurkan untuk dikuret disebuah klinik di Jl Raden Saleh. Namun sejumlah dokter di RS F menyarankan untuk menunggu operasi kuret sampai dua minggu. Lim mengatakan, pihaknya selama ini berganti-ganti mendatangi dokter yang berbeda untuk memastikan kondisi janinnya itu.Lim dan Mina sendiri sebenarnya sudah mencoba bertemu denga dR BI untuk menyakan kenapa sampai memberi obat yang membahayakan janin anaknya itu."Mereka justru menyulitkan dan menghina kami, mereka akan melakukan pertemuan dengan majelis kode etik dan IDI. Sampai hari ini, istri saya belum sembuh juga dari penyakitnya," keluh Lim.Sementara itu, Liong Nababan harus kehilangan istrinya Minar Sitanggang akibat salah diagnosa dokter. Pria warga Perum Puri Gading, Bekasi ini menceritakan, pada 27 Agustus 2007 membawa istrinya ke RS H di Pondok Gede untuk menjalani rawat inap.Minar didiagnosa oleh dr HI menderita usus buntu, tapi istri yang berprofesi sebagai perawat ini justru tidak yakin dengan penyakit itu. Tapi akhirnya mau juga dioperasi.Namun usai operasi, beberapa hari kemudian perut Minar membesar seperti orang hamil dan sulit buang air dan angin.Tanggal 12 September 2007, tiba-tiba dari perut Minar mengeluarkan nanah yang cukup banyak dan jahitan bekas operasi sempat terbuka. Dokter pun lambat bertindak, lalu RS tersebut membentuk tim untuk melakukan operasi laparatomi (cuci usus).Usai operasi, beberapa minggu kemudian Minar ternyata masih mengeluarkan cairan di perutnya. Dokter yang melakukan tindakan hanya menjawab harus sabar dan banyak doa.Minar lalu dibawaz ke dokter spasialis disgesif/usus RSCM. Saat itu dokter di RSCM menyatakan di dalam perut Minar ada fistel/perlengketan usus. Lalu dioperasi lagi, saat itulah ditemukan tumor di usus besar 15 sentimeter dari anus.Tanggal 22 Januari, lanjut Liong, istrinya menjalani operasi keempat sampai keenam untuk angkat tumor. Dari operasi keenam tanggal 11 Mei, Minar juga didiagnosa menderita TBC usus, oleh sebab itu fistel atau kebocoran diusus tidak bisa disembuhkan."Saat itu dr Agi di RSCM sudah membolehkan istrinya pulang karena kondisinya membaik, tanggal 4 Juli istri saya meninggal, dokter juga tidak bisa menjelaskan apa-apa kenapa istri saya bisa meninggal," keluh Liong. (zal/mly)


Berita Terkait