Burma Yes, Myanmar No Way

Burma Yes, Myanmar No Way

- detikNews
Jumat, 28 Sep 2007 13:32 WIB
London - Apalah arti sebuah nama? Begitulah pertanyaan Shakespeare. Namun bagi sebagian negara di Bumi ini ada yang tidak sudi menyebut nama Myanmar.Negeri yang kini sedang menjadi sorotan dunia ini dulunya bernama Burma.Aksi brutalisme junta militer pimpinan Jenderal Than Shwe memukuli dan menembaki demonstran dan biksu bahkan jurnalis asing membuat dunia geram. 13 Orang tewas, termasuk biksu dan seorang jurnalis Jepang, pada Kamis 27 September 2007.Para pemimpin dan tokoh dunia buka mulut mengecam kekerasan tersebut. Namun uniknya, tak semua seragam menyebut nama negara yang berada di kawasan Asia Tenggara tersebut. Ada yang menyebut Myanmar, tapi ada juga yang menyebut Burma.PBB dan sejumlah negara seperti Prancis dan Jepang, serta negara-negara Asia Tenggara tidak kaku lidah menyebut Myanmar.Tapi tidak demikian dengan AS dan Inggris. Kedua pemimpin negara ini mengucapkan nama Burma. Namun ketidaksudian mengucapkan kata Myanmar bukannya tanpa alasan.Seperti dilansir BBC, Jumat (28/9/2007), peralihan nama Burma menjadi Myanmar dilakukan junta militer pada 1989, atau setahun setelah terjadi gerakan pemberontakan yang menewaskan 3.000-an warganya. Junta militer berkuasa sejak 1962.Tidak hanya itu, nama ibukotanya juga diubah dari Rangoon menjadi Yangon. Namun tahun 2005, ibukota dipindahkan ke Naypyidaw sebagai kota terbesar di negeri itu. Lokasinya sekitar 200 km sebelah utara Yangon.Jadi penyebutan nama Burma merupakan bentuk ketidaksukaan terhadap junta militer Myanmar. Sedangkan penyebutan Myanmar dianggap sebagai indikasi suatu negara bersikap lunak terhadap junta militer."Tapi apapun sebutan nama itu tidaklah terlalu penting. Masalah penganiayaan hak asasi manusia di negeri itulah yang terpenting," tukas Mark Farmener, juru kampanye Burma dari Inggris. (sss/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait