Tak Ada Baju Merah, Sarung Merah pun Jadi
Jumat, 28 Sep 2007 12:19 WIB
Jakarta - Nuansa solidaritas untuk korban kekerasan di Myanmar kental terasa di Kantor Departemen Luar Negeri RI. Meski jam shalat Jumat masih jauh, seorang diplomat pede mengantor dengan sarung warna merah.Sarung itu dia kenakan melapisi celana panjangnya. Meski tampak menjadi perhatian, Bapak Diplomat yang satu ini tidak ambil pusing."Saya nggak punya baju merah," ujarnya di Kantor Deplu, Jl Pejambon, Jakarta Pusat, Jumat (28/9/2007).Sebelumnya, 'instruksi' berantai beredar lewat SMS agar pegawai Deplu mengenakan pakaian merah-merah. Mereka yang tidak memiliki batik merah, mengikatkan scarf merah di leher dan lengan mereka.Selain mengantor dengan pakaian merah-merah, sekitar 50 diplomat juga melakukan aksi mengheningkan cipta."Ini spontanitas teman-teman di Deplu. Kita prihatin terhadap rakyat Myanmar. Semoga perdamaian di sana cepat terwujud. Kita sama-sama membangun," kata seorang diplomat, Umar Hadi.Sekitar 10 menit, suasana menjadi hening. Dengan khidmat para diplomat yang berdiri berbaris, menunduk mengheningkan cipta. Acara yang dimulai pukul 11.30 WIB itu akhirnya selesai pukul 11.45 WIB.Mereka pun membubarkan diri dan kembali beraktivitas. "Terima kasih ya. Sekarang kita kembali bekerja," komando Umar Hadi.
(fiq/nrl)











































