Damai Sentosanya Media Myanmar, Dahsyatnya Gerakan Multimedia
Jumat, 28 Sep 2007 11:56 WIB
Jakarta - Dunia tengah geram dengan ulah junta militer Myanmar yang seenak-enaknya menangkapi bahkan menembaki para biksu di negeri itu. Anehnya, di media massa Myanmar, segalanya terlihat aman dan sentosa.Tidak usah repot-repot melihat kekejaman junta. Headline media massa Indonesia begitu banyak memampang foto-foto kekejaman junta.Salah satu harian di Jakarta memasang gambar tentara Myanmar yang membawa senjata yang diarahkan ke kerumunan massa. Meski hanya bersandalkan jepit, seorang tentara tega meletuskan timah panas dari jarak dekat ke seorang kamerawan Jepang, Kenji Nagai, yang tewas pada kerusuhan di Yangon, 27 September 2007.Bagaimana dengan media massa lokal Myanmar? Jangan harap ada gambaran kekejaman junta. Semuanya terlihat damai sentosa, tanpa ada pertumpahan darah.Semisal The Myanmar Times. Koran yang bermotokan Tomorrow's Papper Today itu hanya memuat berita banjir yang menggenangi jalanan di Yangon setinggi 12,7 cm akibat hujan yang turun. Bahkan salah satu berita yang dimuat harian tersebut berjudul 'Travellers on historic journey visit Myanmar' masih mengisahkan betapa Myanmar menjadi salah satu tujuan wisata idola di ASEAN.Tentu ini bertolak belakang dengan kondisi sesungguhnya. Sejak terjadi demo-demo besar di Myanmar akibat menentang kenaikan BBM 500 persen, pemerintahan junta menyeleksi ketat siapa-siapa saja yang bisa masuk ke negara itu. Bagi yang dicurigai mempunyai niat buruk pada pemerintah Myanmar, I'm sorry goodbye deh.Bagaimana dunia bisa melek dengan pertumpahan darah yang terjadi di Myanmar? Semua berkat gerakan masyarakat di negeri itu yang sudah muak dengan pemerintahan junta. Kecanggihan teknologi HP multimedia sangat membantu.Dengan diam-diam, mereka mengabadikan semuanya dalam jepretan kamera HP. Semua peristiwa yang menggambarkan kekejaman tentara junta terekam. Dalam hitungan detik, cukup dengan mengirim via MMS atau email, gambar-gambar tersebut sudah tersebar di dunia.Para penggila internet di negeri itu juga tidak mau kalah. Cerita dan gambar-gambar dari negeri tiran itu sudah terpampang di blog-blog. Dari situlah warga dunia mengetahui apa yang terjadi dalam kandang terkunci bernama Myanmar.Berita-berita di media lokal Myanmar boleh terlihat damai sentosa, namun kecanggihan multimedia punya cerita sendiri tentang negeri yang dulunya bernama Burma tersebut. Mampukah gerakan bawah tanah multimedia melawan kejamnya senjata laras panjang dan timah panas negeri pimpinan Jenderal Than Shwe itu?
(ana/sss)











































