Aneh, Staf Menhut Tangkap Gajah di Habitat Gajah

Aneh, Staf Menhut Tangkap Gajah di Habitat Gajah

- detikNews
Kamis, 27 Sep 2007 16:41 WIB
Pekanbaru - Gajah hanya boleh ditangkap kalau sudah menimbulkan konflik dengan manusia. Walau tak ada konflik, staf menteri kehutanan di Riau tetap menangkap gajah. Anehnya lagi gajah ditangkap justru dihabitatnya sendiri. Dicurigai staf menhut cari uang masuk. Lho?Balai Konsevasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau Kamis (27/09/2007) menangkap 4 ekor gajah. Gajah itu terdiri dari satu induk, dua betina remaja dan satu balita. Gajah ini ditangkap tim BKSDA di lokasi Minas Barat Kecamatan Minas Kabupaten Siak, Riau.Keempat ekor gajah liar itu kini dititipkan di Pusat Pelatihan Gajah Riau. Yang menjadi masalah adalah, penangkap ini tidak prosedural. Mestinya penangkapan gajah hanya boleh dilakukan setelah terjadinya konflik dengan manusia. Tapi justru saat penangkapan itu di lokasi tidak terjadi konflik. Malah lokasi penangkapan itu sendiri justru masuk dalam kategori salah satu kantong gajah di Riau."Jadi kami menilai, penangkapan ini sangat aneh. Masak gajah liar ditangkap dihabitatnya sendiri. Lagi pula dilokasi penangkapan itu tidak ada terjadi konflik dengan masyarakat. Kami curiga atas penangkapan ini," terang Humas World Wide Fund (WWF) Syamsidar saat ditemui detikcom, Kamis (27/09/2007) di ruang kerjanya Jl Parit Indah, Pekanbaru.Ditambahkan Samsu Staf Koservasi Gajah, penangkapan 4 ekor gajah ini juga tidak prosedural. Mestinya tim penangkapan gajah hanya boleh bekerja kalau didampingi dokter hewan. Sebab, dokter hewan inilah yang akan menakar obat bius untuk ditembakkan ke tubuh gajah. Dokter hewan sangat diperlukan agar dalam penangkapan tidak terjadi over dosis obat biusnya."Dalam penangkapan empat ekor gajah itu, sama sekali tidak membawa tim dokter hewan. Lagi pula kalau mau tangkap gajah itu tangkaplah yang memang masuk perkampungan penduduk. Ini kok malah aneh gajah liar ditangkap dihabitatnya sendiri. Kami curiga tim BKSDA Riau sengaja mencari uang masuk," timpal Samsu Staf WWF Bidang Gajah.Lantas di mana uang masuk yang dimaksud tadi? Menurut Samsu, pemerintah menyediakan dana minimal Rp 35 juta untuk menangkap satu ekor gajah. Bila saja ada 4 ekor gajah yang ditangkap, itu artinya ada pemasukan uang untuk tim Rp 140 juta."Nah kami curiga penangkapan yang dilakukan mereka selain tidak prosedural, intinya cuma mau cari uang masuk. Ini dapat dilihat lokasi penangkapan itu tidak ada konflik dengan masyarakat. Lokasi penangkapan itu justru bagian salah satu kantong gajah di Riau. Kami menyebut kantong gajah itu Populisi Petapahan," terang Samsu.WWF menilai penangkapan tanpa prosedural yang dilakukan BKSDA Riau bukan kali pertama terjadi. Hampir setiap kali ada penangkapan tim BKSDA tidak memenuhi standar yang telah ditentukan Menhut. Menurut catatan WWF, sejak tahun 2000 hingga 2006 ada 58 ekor gajah ditangkap dihabitatnya sendiri oleh BSKDA ."Ditambah tahun 2007 ini, jumlah yang sudah mereka tangkap 6 ekor, dua ekor yang mereka tangkap bulan agustus lalu. Total seluruhnya 64 ekor gajah yang ditangkap BKSDA, dari jumlah itu diketahui 35 ekor mati. Kematian disebabkan tim BKSDA tidak prosedural dalam penangkapan," kata Samsu.WWF berharap, kasus penangkapan gajah dengan tujuan mencari keuntungan sendiri hendaknya segara dihentikan tim BSKDA Riau. Kalau pratik seperti ini terus dilakukan, maka dikhawatirkan gajah-gajah di Riau bukan saja mati karena berkonflik dengan manusia, tapi juga sengaja dibunuh tim BKSDA dengan dalih penangkapan gajah liar."Penangkapan gajah tanpa prsedural harus segera dihentikan," kata Samsu.Kepala BKSDA Riau, Rahman Siddik beberapa kali dikontak detikcom ke nomor selulernya tidak bersedia menerima. (cha/lom)


Berita Terkait