Mengisi Perut dengan Karet
Kamis, 27 Sep 2007 05:29 WIB
Lampung - Kabupaten Way Kanan, Lampung, memang cukup tertinggal. Akses menuju daerah itu cukup sulit. Fasilitas jalan menuju lokasi itu kurang memadai. Apalagi di waktu malam, hutan di kiri dan kanan jalan menimbulkan kesan seram.Di daerah tersebut, perekonomiannya bergantung pada hasil kebun. Utamanya adalah karet, di samping pala dan buah-buahan. Tidak heran, di daerah tersebut banyak terdapat pohon karet.Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, dicanangkanlah program sejuta bibit pohon karet untuk warga. "Terutama tahun ini, bibit karet yang dibagikan kepada tiap-tiap KK sebamyak 500 bibit," kata Bupati Way Kanan Tamanuri di Kantor Dinas Bupati Way Kanan saat menjamu Menneg PDT Lukman Edy, Rabu (26/9/2007).Dia menjelaskan, dalam sehari, masing-masing perkebunan bisa menghasilkan 50 kg getah karet. Harga getah karet per kilo mencapai Rp 8 ribu. Sehingga dalam sehari, setiap KK bisa mendapat penghasilan Rp 400 ribu."Untuk tahun 2007 ini, selain dari Kementerian Negara PDT, warga Way Kanan juga mendapat bantuan 9.555 bibit karet dari Menneg Koperasi dan UKM," lanjut Tamanuri.Kondisi fisik Way Kanan memang cukup memprihatinkan. Jalan Ibukota Kabupaten di Jl Jenderal Sudirman lebarnya hanya 3 meter. Masjid Agung Kabupaten At Taqwa pun bermodel kuno tanpa ornamen modern dan hanya berkapasitas 200 orang.Sepanjang jalan menuju Way Kanan kondisinya rusak. Lebar jalan sekitar 5-6 meter, dan gelap pada malam hari lantaran tak ada lampu penerangan. Apalagi di kiri kanan jalan adalah hutan.Dari 14 kecamatan yang ada di kabupaten tersebut, ada 1 kecamatan yang belum teraliri listrik. Setelah pukul 16.00 WIB, transportasi umum tidak bisa ditemui. Angkutan umum yang ada di Way Kanan adalah mobil bak terbuka yang diberi tempat duduk dan beratap terpal.Hingga saat ini, Way Kanan belum memiliki terminal dan pasar tetap. Setiap hari pasar tradisional berpindah dari 1 kecamatan ke kecamatan lainnya.Untuk sampai ke Way Kanan, perlu waktu 5-6 jam dari Lampung bila menempuh perjalanan darat. Bila menggunakan KA, sebenarnya waktu tempuhnya bisa lebih cepat. Sayangnya KA yang melintasi daerah tersebut hanya beroperasi 2 kali dalam sehari, yakni pada pagi dan malam hari.Sulit Hang OutSetiap kali akhir pekan, ataupun di hari-hari kerja, warga kota besar tidak perlu pusing ke mana akan hang out. Pusat belanja, toko buku, dan taman bermain tersedia. Kondisi ini tentu berbeda dengan di Way Kanan."Kita bingung kalau malam mau main ke mana. Paling ngobrol saja. Akhir pekan paling kita pulang ke Bandar lampung," kata salah satu angota polisi, Bripka Agus.
(nvt/nvt)











































