Bisnis Penitipan Motor di Ragunan, Modal Minim Hasil Maksi
Rabu, 26 Sep 2007 14:23 WIB
Jakarta - Penitipan motor layaknya bisnis kos-kosan. Tidak perlu banyak keluar keringat, uang pun mengalir deras ke dalam kocek.Namun penitipan motor lebih menguntungkan, karena barang yang dititipkan tidak rewel dan banyak ulah seperti anak kos-kosan. Penjaga hanya sibuk saat jam-jam padat seperti pada pagi dan sore hari.Bisnis penitipan motor ini sungguh menggiurkan setelah ada proyek busway. Ya, makin hari kian banyak penduduk daerah satelit Jakarta menitipkan motornya lalu melanjutkan perjalanannya ke kantor dengan TransJ.Salah satu tempat strategis membuka penitipan motor adalah di dekat halte Ragunan yang melayani koridor VI Ragunan-Dukuh Atas. Kini tempat penitipan motor dapat dengan mudah dijumpai di sekitar halte itu."Ada sekitar lima di daerah sini," kata seorang pemilik penitipan motor yang enggan disebutkan namanya pada detikcom, Rabu (26/9/2007).Tidak sulit untuk mulai menggeluti bisnis ini. Modalnya hanya lahan tidur atau tanah kosong. Sedangkan untuk operasional hanya dibutuhkan penjaga serta kartu titipan motor."Cuma tanah kosong doang. Bisa ngontrak lahan atau halaman rumah," jelasnya.Salah satu tempat penitipan motor yang dikunjungi detikcom bisa menampung hingga 106 motor di lahan seluas sekitar 100 meter persegi. Dengan tarif Rp 3.000 untuk sekali titip maka dalam seharinya pemilik penitipan motor bisa meraih pemasukan Rp 300.000. Coba hitung berapa tebal koceknya walau penitipan hanya beroperasi dari Senin-Sabtu saja."Ini sangat menguntungkan. Ini kan lahan tidur, daripada tidak terpakai," promosinya.Bikers yang menitipkan motornya kebanyakan adalah warga yang bermukim di daerah Depok. Umumnya mereka sudah menjadi langganan tetap di penitipan motor tersebut.Selain membayar harian, ada juga penitipan yang menerapkan sistem abonemen Rp 60.000 per bulan. Sistem ini dianggap menguntungkan daripada membayar harian."Kita kan dapat uang terus meskipun mereka nggak datang. Siapa tahu sebulan cuma pakai seminggu," katanya.Beberapa daerah yang dianggap strategis untuk memulai bisnis penitipan motor bagi pengguna TransJ adalah di sekitar Pasar Rebo, Kampung Rambutan, dan Kalideres. Ketiga titik itu merupakan titik angkut TransJ bagi pekerja yang tinggal di pinggiran Jakarta, seperti Tangerang, Bogor, dan Depok.Saat ditanya alasan mengapa dirinya enggan diekspos, pemilik penitipan motor tersebut mengatakan dirinya masih belum memiliki izin usaha. Tapi ia mengaku saat ini sedang berusaha mengurus izin tersebut agar usahanya lancar. "Kita jangan diekspos ya," pesannya.
(gah/nrl)











































