Ketika Usulan Berkunjung ke Boeing Tak Sampai ke SBY

Laporan dari New York

Ketika Usulan Berkunjung ke Boeing Tak Sampai ke SBY

- detikNews
Rabu, 26 Sep 2007 13:48 WIB
New York - Sejumlah warga Indonesia di AS sebenarnya antusias mengikuti pertemuan dengan Presiden SBY usai buka puasa di New York. Namun, ternyata pertemuan sangat singkat, sehingga banyak usulan dan uneg-uneg tak tersampaikan. Salah satunya adalah usulan agar Presiden SBY mengunjungi Boeing. Temui Wicara WNI dengan Presiden SBY ini digelar di kantor KJRI New York, Selasa (25/9/2007) kemarin seusai buka puasa. Para undangan rela datang jauh-jauh dari negara bagian masing-masing, seperti Houston, Seattle, San Fransisco, Chicago, dan Washington DC, ke New York untuk 'meramaikan' acara ini. Mereka pun sudah menyiapkan pertanyaan, usulan, atau sekadar uneg-uneg untuk disampaikan kepada Presiden SBY. Namun, ternyata banyak undangan yang tidak sempat menyampaikan usulan dan uneg-unegnya karena singkatnya acara tersebut. Sebagian tentu kecewa. Kepada wartawan detikcom di AS, Endang Isnaini Saptorini, di lobby Hotel la Quinta Inn di Queens Bulevard & 34th Street New York, tempat para tamu KJRI New York itu menginap, mereka saling berbagi rasa. Kekecewaan mereka cukup beralasan, mengingat mereka khusus datang untuk bertemu muka dengan Presiden dengan agenda masing-masing. "Mengenai masalah dual citizenship. Jawabannya memang sudah ada di peraturan yang baru. Namun pelaksanaan di lapangan, justru menyulitkan bagi kami, warga negara Indonesia untuk mengunjungi kembali ke tanah air kami sendiri," demikian curhat Rossy Miller, seorang pengacara yang diundang untuk mewakili komunitas Indonesia di Illinois, Chicago. Selain Rossy, Dharma G. Pohan (Houston) yang aktif dalam organisasi ICMI North America, juga mengaku kecewa. Sebab, dirinya belum sempat memperkenalkan keinginan ICMI di AS untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan spiritual masyarakat cendekiawan Indonesia, agar tetap menjadi motor penggerak pembangunan.Lain halnya dengan Dwirana Satyafat (Los Angeles), Herman Lubis (New York) maupun Gautama Indra Djaja (Seattle). Selain masalah Dual Citizen, mereka juga menyayangkan tidak adanya interaksi (tanya jawab) dengan masyarakat. "Biasanya kan kalau ada jawaban, ada tanggapan lagi dari masyarakat. Tadi terkesan hanya dari satu pihak saja," imbuh Gautama, yang bekerja di IPTN North America (anak perusahaan dan perwakilan PT Dirgantara Indonesia).Gautama sendiri ingin menyampaikan keinginannya agar dalam kunjugan ke AS di masa mendatang, SBY mengagendakan mengunjungi pabrik pesawat Boeing di Seatle, agar Indonesia dapat memperoleh peluang bisnis terkait dengan pembelian 120 pesawat 737 oleh Lion Air dari Boeing senilai kurang lebih US$ 10 miliar. Menurut dia, peluang bisnis ini sangat besar dan memiliki dampak bukan hanya untuk PT DI, namun juga seluruh masyarakat Indonesia yang masih menunggu kepastian keputusan kasasi oleh MA tentang kepailitan PTDI sebagai aset negara yang dianggap memiliki nilai strategis.Lebih lanjut mereka juga menyatakan bahwa mereka sangat paham dengan jadwal yang sangat padat dan keterbatasan waktu Presiden AS. "Semoga saja curhat kita ini bisa sampai ke tangan Presiden ya, mbak," seloroh mereka. (eis/asy)


Berita Terkait