Setelah Pluit Bergelung Busway

Setelah Pluit Bergelung Busway

- detikNews
Rabu, 26 Sep 2007 12:01 WIB
Setelah Pluit Bergelung Busway
Jakarta - Bila Pluit tidak memiliki pasar modern dan didukung perumahan mewah di sekelilingnya, barangkali Pluit tidak beda dengan wilayah lain di pesisir Jakarta: panas, gersang, dan miskin. Namun, setelah kawasan itu disulap oleh sejumlah pengembang kondisinya berbalik 180 derajat. Nah, Mega Mall Pluit dapat dikatakan menjadi sentral keramaian mengingat tidak ada pusat pertokoan yang mencolok di kompleks elit itu. CBD Pluit yang sedang dibangun di pintu masuk Pluit, belum mampu menggeser sentralitas mall. Fasilitas kesehatan skala besar yakni RS Atma Jaya dan RS Pluit ditempatkan jauh di bibir pintu masuk perumahan. Akibat pertumbuhan yang cepat, apartemen dibangun di sekitar sentra Pluit seperti Apartemen Laguna dan Mitra Bahari di sebelah timur Pluit. Sementara di ujung barat, perumahan Pantai Indah Kapuk (PIK) menjadi "penutup" Jakarta yang mewah. Satu-satunya kawasan menengah bawah hanyalah perkampungan nelayan dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Muara Angke di pesisir utara. Itu pun sudah hampir-hampir dapat dikatakan tidak menarik lagi karena tidak terawat, bau, dan sumpek. Memasuki kawasan mewah di Jakarta Utara itu, langsung disambut jalan yang terbentang khas perumahan real estate: jalan 2-3 jalur, pedestrian lebar (2-3 meter), mengandalkan keteduhan dan estetika serta ketenangan sebagai tempat untuk beristirahat. Sabagai penunjang, moda transportasi di kawasan itu terbilang ekslusif: kendaraan pribadi. Hanya sedikit angkutan umum yakni KWK B 01 (Grogol-Angke) dan Kopami 01 (Grogol-Muara Angke). "Busway merusak ketenangan kami. Ini proyek gila-gilaan, hanya bikin macet," ucap Nancy (27), warga perumahan Pluit Putra Blok D, Penjaringan, Jakarta Utara, saat ditemui di Mega Mall Pluit, Rabu (26/9/2007).Menurutnya, dia pantas kecewa. Setelah Pluit yang tersentral di Mall Pluit bergelung beton busway, macet tak dapat dihindari. Aktivitas warga yang selama ini lancar, salah satu lajur jalan harus rela diserobot koridor IX (Pinang Ranti-Pluit). Macet tak dapat dihindari karena jumlah mobil tidak otomatis terkurangi. Warga pun pantas geram. Spanduk penolakan warga yang terpasang sejak Minggu lalu belum diturunkan. Isinya mengumpat dan meradang masih belum berubah. "Bukan begini kalau ingin mengurangi macet. Cukup sampai RS Atma Jaya saja. Nanti warga yang ingin naik busway bisa naik angkutan umum dulu. Itu baru solusi, warga diberikan pilihan, bukan dipaksakan," ujar ibu satu anak yang bekerja di salah satu kantor hukum. Benar saja, efek kemacetan mengular hingga Jl Latumeten dan Jl Soepomo Slipi. Kemacetan itu terlihat bila jam berangkat dan pulang kantor. Tak hanya itu, kemacetan melebar hingga ke Jl Gedong Panjang sampai pelabuhan Sunda Kelapa. Sayang, Ketua Dewan Kelurahan Pluit Oscar Hardiansyah tak dapat dihubungi. Padahal, diharapkan ia dapat menjelaskan asal-usul pengembangan Pluit. Apakah jalan yang dipakai busway merupakan jalan pengembang ataukah milik pemerintah. (Ari/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads