100 Ribu Orang Ikut Protes Junta Militer Myanmar
Selasa, 25 Sep 2007 01:27 WIB
Jakarta - Aksi demonstrasi para biksu di Myanmar terus terjadi. Pada aksi yang sudah berlangsung hampir sepekan, jumlah demonstran yang ikut menentang pemerintahan Junta Militer Myanmar mencapai lebih 100 ribu orang.Mereka terdiri dari biksu dan warga sipil. Mereka tumpah ruah ke jalan-jalan di kota Myanmar. Aksi protes yang terjadi pada Senin (24/9/2007) itu berlangsung selama lima jam dan diakhiri dengan berdoa di Pagoda sebelum kembali ke rumah mereka masing-masing. Oposisi politik di Thailand mengatakan, aksi protes juga berlangsung di beberapa kota besar di Myanmar, seperti Mandalay, Sittwe dan pusat kegiatan keagamaan di Pakokku. Media nasional setempat melaporkan Menteri Agama Brigadir Jenderal Thura Myint Maung, mengeluarkan peringatan akan menindak para biksu. "Jika para biksu tetap melakukan aksi menentang peraturan dalam ajaran-ajaran Budha, kami akan mengambil tindakan berdasarkan undang-undang yang berlaku," kata Maung sebagaimana dilansir AFP, Selasa (25/9/2007).Di Myanmar, Biksu sangat dihormati dan setiap kebijakan junta militer untuk menumpas aksi demontrasi mereka justru akan memicu kemarahan dari masyarakat.Pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama memberikan dukungan dan mendesak pemerintah junta militer Myanmar untuk tidak melakukan kekerasan terhadap para biksu."Sebagai biksu Budha, saya memohon agar rezim militer yang meyakini ajaran Budhisme untuk bertindak sesuai dharma suci dalam semangat kasih sayang dan tidak melakukan kekerasan," kata Dalai dalam pesan tertulis.Aksi protes para biksu itu mengundang reaksi dari sejumlah negara. Sekjen PBB Ban Ki-Moon mengajak pemerintah junta militer Myanmar untuk melanjutkan upaya damai. Kementrian Luar Negeri Perancis bersuara lebih keras lagi dengan mengingatkan pemerintah junta militer Myanmar agar bertanggung jawab terhadap sejumlah kebijakan keras yang telah dikeluarkan. Bahkan Malaysia mendesak ASEAN untuk menekan Myanmar melakukan reformasi di tubuh pemerintahannya. Demonstrasi biksu dan masyarakat yang terus menerus dalam sebulan terakhir ini dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM akan mendorong kenaikan harga bahan-bahan pokok lainnya, sehingga dinilai semakin menekan rakyat yang selama ini sudah sengsara di bawah pemerintahan junta militer.
(rmd/ndr)











































