Jelang Waktu Sahur, 3 Penodong Dikeroyok Massa
Senin, 24 Sep 2007 15:29 WIB
Jakarta - Kejahatan 'tidak pernah tidur'. Malam ataupun dinihari sekalipun, tindak kejahatan bisa terjadi. Tiga tukang todong pun dikeroyok massa menjelang sahur. Di salah satu perempatan kecil sunyi di Jl Tubagus Angke, Penjaringan Jakarta Utara, Reza (18) dan Sahrul (18) turun dari angkutan umum pelat hitam, Senin dini haro. Namun, baru melangkah beberapa jengkal, warga Jl Jelambar Jakut itu dihampiri empat orang tak dikenal.Belakangan diketahui, keempatnya yakni Kenny (22), Cindil (18), Tarno (17), dan Dede (18) adalah tukang todong d ikawasan itu. Di tangan Cindil dan Tarno tergenggam sebilah badik yang masih disembunyikan di balik baju. "Serahkan HP dan dompet elo," kata Cindil sambil memperagakan badik teracung tadi di Mapolsek Penjaringan, Jl Pluit Raya, Jakarta Utara, Senin (24/9/2007). Kontan, keduanya langsung terperanjat, takut. Terlebih suasana dinihari sekitar pukul 02.30 WIB yang sepi dan dingin, mendorong Reza dan Sahrul tak berkutik.Di bawah todong senjata tajam, Reza dan Sahrul pun menyerahkan kedua HP-nya dan uang Rp 150.000 yang berada di dompet. Mimik kedua remaja ini terlihat ketakutan mencari selamat. Namun, meski Reza dan Sahrul terlihat pasrah, masih ada keberanian tersimpan. Dua orang yang masih sekolah di salah satu SMA swasta itu berteriak 'maling' keras-keras. Beruntung Reza dan Sahrul. Tukang ojek yang tengah mangkal di sekitar tempat kejadian mendengar teriak pertolongan itu. Tanpa menunggu perintah, sedikitnya sepuluh tukang ojek mengejar para tersangka yang mulai menghilang di tikungan jalan. Hanya Dede yang berhasil kabur. Sementara tiga lainnya menjadi bulan-bulanan warga yang marah itu. "Untung ada yang melerai dan membawa ke polisi. Kalau tidak kondisi pelaku akan lebih parah," kata Kapolsektro Penjaringan Kompol Hirbak Wahyu Setyawan saat dikonfirmasi. Kini ketiganya harus menghadapi pasal 365 tentang pencurian dengan kekerasan. Ancaman hukuman hingga 5 tahun penjara. "Dede masih kami buru. Sudah teridentifikasi," tegas Hirbak.
(Ari/asy)











































