Soal 1 Syawal NU Ikuti Keputusan Pemerintah
Jumat, 21 Sep 2007 21:08 WIB
Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berharap tidak ada perbedaan dalam penentuan 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Namun, bila terjadi perbedaan, PBNU akan mengikuti keputusan pemerintah soal penetapan hari raya tersebut. "Semoga saja sama. Tapi, kalau nggak sama, NU akan berimam pada pemerintah," kata Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi kepada wartawan usai buka puasa bersama di kantor PBNU, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jumat (21/9/2007).Disinggung soal sikap PP Muhammadiyah yang telah menetapkan Idul Fitri 1428 H jatuh pada 12 Oktober 2007, Hasyim mengaku, pihaknya tidak mempersoalkan sikap ormas mana pun dalam menentukan Hari Raya Idul Fitri tersebut melalui metode hisab. PBNU sendiri baru akan menentukan jatuhnya Idul Fitri 1428 H pada tanggal 11 Oktober mendatang dalam sidang Isbat di Depag. Selama ini NU untuk menentukan jatuhnya 1 Syawal melalui dua metode, yaitu melalui metode hisab (perhitungan astronomi) atau rukyat (melihat bulan secara langsung).Menurut Hasyim, metode rukyat dilakukan untuk memastikan melihat hilal (bulan) sebagai tanda bergantinya bulan. Tapi bila metode ini tidak tercapai, maka dilakukan Istikmal atau menyempurnakan usia bulan menjadi 30 hari. "Kalau tidak bisa melihat bulan, ya, Istikmal, digenapkan 30 hari atau lebarannya tanggal 13 Oktober," jelas Hasyim.
(zal/mly)











































