Kisah Warga Binaan Rutan Salemba

Kisah Warga Binaan Rutan Salemba

- detikNews
Kamis, 20 Sep 2007 17:28 WIB
Jakarta - Bagus (35), napi di Rutan Salemba, Jakarta Pusat, pada akhir November 2007 nanti akan menghirup udara bebas. Namun sejak dua minggu lalu, bapak dua anak itu sudah bebas berkeliaran di sekitar rutan.Bukan kabur atau melarikan diri, tapi Bagus merupakan salah satu dari beberapa napi yang terpilih mengikuti program warga binaan.Dengan status tersebut, Bagus dan beberapa rekannya bisa berada di luar tahanan pada siang hari. Mereka rata-rata dipekerjakan sebagai petugas kebersihan bagian luar Rutan Salemba.Seperti pengamatan detikcom pada Kamis (20/9/2007). Tak seperti rekannya yang sibuk menyapu dan membersihkan halaman rutan, Bagus kebagian menjadi juru parkir kendaraan. Satu yang cukup menarik perhatian dari penampilan Bagus adalah kaos putih lengan panjang bergaris biru bertuliskan "Warga Binaan Rutan Salemba" yang wajib dikenakannya.Kaos itu sebagai penanda dia adalah napi yang sedang menjalani program tersebut. Sementara rekannya yang lain bernama Pardjo, kebagian kaos berwarna hijau dengan tulisan yang sama, ditambah tulisan "Tamping Kebersihan". "Ya lumayan Mas, bisa sedikit menikmati kebebasan. Tapi nggak bisa macam-macam," tutur Bagus.Dia menambahkan, sehabis bertugas selama seharian penuh, sore harinya dia harus melapor ke pos dan kembali masuk rutan untuk menghabiskan malam. "Nggak bisa ke mana-mana lah. Paling sekitar sini saja karena malam saya harus masuk kandang lagi," seloroh dia. Sebagai juru parkir, Bagus memperoleh penghasilan dari uang parkir. Namun jumlahnya tidak seberapa karena harus dibagi berlima rekan dan sipir pengawasnya. "Paling banyak 20 ribu rupiah sehari. Cukup buat makan sama beli rokok sebungkus saja," tuturnya.Meski begitu, Bagus tetap bersyukur karena dia bisa sedikit merasa bebas dibandingkan rekan-rekan lainnya di dalam rutan. "Mau uangnya banyak tapi nggak bisa ngapa-ngapain kan sama saja bohong," tukasnya.Seleksi Ketat Untuk menjadi peserta program warga binaan, seorang napi harus melalui seleksi yang ketat. Berbagai kriteria dan syarat yang ditetapkan rutan harus bisa dilalui sang napi."Napi itu harus bisa menunjukkan dia layak dan bisa dipercaya untuk menjadi warga binaan," kata seorang sipir pengawas yang enggan disebutkan namanya kepada detikcom.Selain diukur melalui perilaku selama menjadi napi, program ini didasarkan pada kepercayaan. Makanya, lanjut sipir tersebut, sangat jarang napi yang lolos seleksi. "Kita juga jadi penjamin agar si napi tidak kabur. Kalau dia lari kita yang harus bertanggung jawab," ungkapnya.Soal seleksi yang ketat tersebut, diakui Bagus. Pria yang dihukum 15 bulan penjara karena kasus penganiayaan itu harus melalui serangkaian tes. Salah satunya dengan "disidang" ulang oleh pihak rutan. "Kasus saya dipelajari lagi, kenapa saya dipenjara, dan bagaimana laporan perilaku saya selama ditahan," kata Bagus.Setelah lolos pun, Bagus bahkan harus menyerahkan sertifikat rumahnya sebagai jaminan agar tidak kabur. "Kakak dan istri saya juga jadi jaminan. Makanya saya nggak mau macam-macam," tutup dia mengakhiri pembicaraan. (bal/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads