Astronot Malaysia Dibekali Cara Wudhu, Salat, Mati di Angkasa
Kamis, 20 Sep 2007 13:58 WIB
Kuala Lumpur -
Dua astronot Malaysia beragama Islam menjadi kandidat mengarungi luar angkasa saat Ramadan. Keduanya pun dibekali cara wudhu, sembahyang, bahkan dikubur di angkasa.Kedua astronot berprofesi dokter dan dokter gigi militer itu sedang latihan di Rusia. Siapa yang lolos, akan diumumkan Jumat 21 September 2007.Pemenangnya berhak mengikuti 11 hari mengarungi luar angkasa yang dimulai pada 10 Oktober. Demikian seperti dilaporkan AFP, Kamis (20/9/2007).Siapapun yang menang, Departemen Pengembangan Islam Malaysia (JAKIM) berharap sang astronot muslim tetap menjalankan puasa selama mengangkasa."Kondisi luar angkasa yang sangat berbeda dengan Bumi bukanlah rintangan bagi astronot untuk memenuhi kewajiban sebagai umat muslim," sebut buku petunjuk setebal 20 halaman.Karena stasiun ruang angkasa mengelilingi Bumi 16 kali sehari, secara teori, seorang muslim harus sembahyang 80 kali sehari selama di ruang angkasa.Namun ditetapkan astronot hanya perlu salat 5 kali sehari seperti halnya di Bumi. Kiblat dan waktunya mengikuti lokasi di mana pesawat ulang alik bertolak, dalam hal ini Baikonur di Russia.Jika astronot muslim meninggal di ruang angkasa, jasadnya harus dibawa pulang ke Bumi untuk dikebumikan dengan ritual biasanya. Jika tidak memungkinkan, maka dikebumikan di ruang angkasa setelah melalui upacara ritual. Namun buku petunjuk itu gagal menjelaskan bagaimana cara penguburan di angkasa.Sedangkan untuk wudhu, jika air tidak tersedia, astronot bisa melakukannya secara simbolik seperti halnya tayamum, yakni wudhu dengan debu, meskipun tidak ada debu di ruang angkasa."Saran melakukan salat di ruang hampa udara, selama salat, kalau tidak bisa berdiri tegak, boleh membungkuk. Kalau tidak bisa berdiri, boleh duduk. Kalau tidak bisa duduk, maka sebaiknya merebahkan diri," begitu sebut buku petunjuk.Kaum muslim juga diharamkan makan babi dan produknya, alkohol, dan hewan yang tidak dipotong sesuai prosedur Alquran. Namun di ruang angkasa, semuanya itu fleksibel."Diragukan apakah makanan yang tersedia dikemas secara halal, maka sebaiknya dimakan secukupnya untuk mengganjal lapar," sebut buku petunjuk.
(sss/nrl)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































