Presiden Bukan Arena Gus Dur, Jadi Guru Bangsa Saja

Presiden Bukan Arena Gus Dur, Jadi Guru Bangsa Saja

- detikNews
Kamis, 20 Sep 2007 11:10 WIB
Jakarta - Para pendukung Gus Dur harusnya realistis. Pemilu Presiden 2009 bukan arena untuk ketua Dewan Syuro PKB itu lagi. Gus Dur lebih pas jadi guru bangsa.Gus Dur dinilai tidak cocok dengan jabatan-jabatan formal.Pendukung Gus Dur harusnya belajar dari pengalaman. Salah satunya penolakan KPU atas pencalonan Gus Dur pada 2004 lalu."Gus Dur sendiri kan pernah ngomong, dia bukan potongan presiden. Tapi ya kenapa masih mau juga. Presiden itu bukan arena Gus Dur. Dia harusnya jadi guru bangsa, jadi resi. Jangan urusi jabatan formal. Nanti orang repot ikut repot," tutur Maswadi Rauf.Guru besar ilmu politik Universitas Indonesia (UI) itu menyampaikan pendapatnya saat dihubungi detikcom, Kamis (20/9/2007).Sayangnya, imbuh Maswadi, para pemimpin parpol dan elit politik lebih memikirkan seleranya sendiri, ketimbang kepentingan rakyat Indonesia."Di Indonesia itu ada masalah, yang dipentingkan kharisma sebagai kriteria dalam menentukan pemimpin, bukan prestasinya," kata dia.Kalau kriteria itu yang diutamakan, maka jangan berharap pemimpin bisa bekerja. Kinerjanya dipastikan lemah, demikian juga pemerintahannya.Karena itu harus ada perubahan. Pemimpin politik harus melakukan pembaruan ke arah yang lebih realistis, sehingga demokrasi berjalan baik."Partai harusnya menjadi arena pendidikan politik. jangan justru mematikan. Masih banyak calon yang lebih baik," katanya.Jika kriteria kharismatis yang dipakai, Maswadi yakin, kalau ada calon lain di luar calon yang dielu-elukan, seperti Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri yang juga akan maju dalam Pilpres 2009, akan dianggap sebagai suatu kesalahan."Orang-orang partai tidak belajar dari pengalaman. Karena mereka tidak percaya dengan kekalahan, Megawati contonya. Dia kan bilang 2004 lalu bukan kalah, tapi jumlah pemilihnya berkurang," tutur dia.Harusnya setiap pemimpin melongok karakter BJ Habibie yang menunjukkan sikap sebagai seorang negarawan yang bisa membaca keadaan. Meski pendukungnya masih banyak, dia memilih mengundurkan diri saat pidatonya ditolak dalam sidang umum 1999."Jadi orang-orang lama dan elit politik harus tahu diri," katanya.Maswadi berharap Partai Golkar bisa menjadi pelopor pembaruan parpol di Indonesia. Caranya, dengan mempertahankan sistem konvensi, sehingga calon-calon presiden yang muncul tidak tokoh yang itu-itu juga."Sebab dibandingkan parpol lain, Golkar lebih mapan cara berpikirnya, kriteria kharisma juga paling kecil. Jadi harusnya konvensi tetap dipertahankan," ujar Maswadi. Punya tanggapan atas rencana Gus Dur untuk maju menjadi Presiden 2009? Silakan bergabung dalam diskusi santai di DetikForum. (umi/sss)


Berita Terkait