Sejumlah Bahasa Terancam Punah
Kamis, 20 Sep 2007 06:29 WIB
Sydney - Bahasa adalah salah satu cara individu untuk berkomunikasi dengan invidu lainnya. Meski keberadaannya penting, namun sejumlah bahasa di dunia terancam punah.Sebuah studi mengidentifikasi, ada 5 titik di dunia yang bahasanya akan punah lebih cepat dibanding daerah lainnya. Titik-titik itu adalah Siberia bagian timur, Australia bagian utara, Amerika Selatan bagian tengah, Oklahoma, dan Pacific Northwest AS.Para peneliti mengatakan, 5 titik yang bahasanya rentan menghilang adalah area yang telah terkolonisasi. Bahasa dominan yang kemudian dipakai adalah Inggris dan Spanyol."Bahasa mengalami krisis kepunahan global yang melampaui laju kepunahan spesies," ujar profesor ilmu bahasa David Harrison kepada situs National Geographic seperti dikutip AFP, Rabu (19/9/2007).Menurutnya, separuh dari 7.000 bahasa di dunia diperkirakan punah sebelum akhir abad 21 ini.Dikatakan dia, orang-orang suku asli memiliki pengetahuan yang sangat erat berhubungan dengan lingkungannya. Bahasa mereka akan menghilang lantaran konsep yang berhubungan dengan matematika dan alam tidak familiar dengan pemikiran Barat."Kebanyakan, yang kami tahu tentang spesies dan ekosistem tidak ditulis di mana-mana. Itu hanya di kepala orang. Kami melihat di depan mata erosi pengetahuan dasar manusia," imbuh Harrison.Tahun ini, para peneliti pergi ke Australia untuk belajar bahasa-bahasa Aborigin yang terancam punah. "Australia itu menarik karena manusia telah ada di sana sejak 50.000 tahun lalu. Mereka merepresentasikan link yang tak terputus dengan masa lalu melalui sebuah jalan di mana tidak ditemui di bagian lain bumi," lanjut Harrison."Anda dapat benar-benar memandang sekilas prasejarah dan kepercayaan mitologikal serta sistem yang mereka buat dan lalui secara lisan, dan benar-benar tidak ditulis," sambungnya.Di Australia, para peneliti bertemu seorang pria yang bisa berbahasa Amurdag, salah satu bahasa yang terancam punah.Dikatakan dia, di Australia juga ditemui seorang perempuan berumur 80 tahun yang menggunakan bahasa aslinya untuk mentransfer ilmu kepada anak-anak dengan bahasa Yawuru. Perubahan intergenerasional dipercaya sebagai satu-satunya jalan bahasa asli bisa bertahan."Anak-anak memilih mengambil kursus ini. Tidak ada yang memaksanya. Ketika kami tanya mengapa mereka mempelajarinya, alasannya karena mulai punah jadi harus dipelajari," pungkas Harrison.
(nvt/nvt)











































