Mendiknas Optimis Wajib Belajar 9 Tahun Tercapai 2009

Mendiknas Optimis Wajib Belajar 9 Tahun Tercapai 2009

- detikNews
Rabu, 19 Sep 2007 21:48 WIB
Jakarta - Mendiknas Bambang Soedibyo optimis target wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun dan pemberantasan buta huruf akan tercapai pada tahun 2009. Hal ini terlihat dari meningkatnya partisipasi lulusan SD masuk SMP, dan menurunnya tingkat anak putus sekolah.Demikian disampaikan Bambang kepada wartawan usai rapat koordinasi di Kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (19/9/2007).Dijelaskan Bambang, sebenarnya wajib belajar 6 tahun sudah selesai sejak tahun 1994. Kemudian pemerintah memperluas wajib belajar menjadi 9 tahun hingga tingkat SMP dengan target tuntas pada tahun 2004 dengan ukuran angka partisipasi kasar (APK) 95 persen.Sayangnya, karena tahun Indonesia dilanda multikrisis pada tahun 1997 hingga 2004, target itu belum tercapai. Di mana target APK SMP saat itu sudah mencapai 81 persen."Nah, untuk itu target ini diperpanjang hingga tahun 2008. Alhamdulillah, sampai saat ini APK SMP sudah mencapai 93,79 persen. Jadi kalau tahun depan diharapkan mencapai 95 persen, targetnya tinggal 1,21 persen," jelas Bambang.Sementara untuk angka partisipasi murni (APM) SMP, ditargetkan pada tahun 2008 mencapai 71,83 persen. Untuk tahun ini saja, APM SMP sudah mencapai 75,33 persen, termasuk di tingkat madrasah tsanawiyah (MTs).Sedangkan untuk angka transisi, yaitu persentase anak SD yang melanjutkan ke SMP ditargetkan pada tahun 2008, mencapai 92,50 persen."Ternyata tahun ini saja sudah mencapai 92,70 persen. Tapi angka putus sekolahnya yang belum tercapai. Kita harapkan untuk tahun ini sudah bisa turun mencapai 2,58 persen. Saat ini angka putus sekolah masih 3,01 persen dan ini masih terlalu tinggi," jelasnya.Hal ini, menurut Bambang, tentunya menjadi pekerjaan rumah untuk diselesaikan melalui berbagai program seperti mencari anak-anak yang putus sekolah untuk dibiayai. Atau, lanjut dia, dibujuk untuk mengikuti program Paket A dan Paket B, ditambah dengan programmemperbanyak sekolah terbuka.Pada kesempatan itu, Bambang juga mengatakan untuk pemberantasan buta huruf terus dilakukan. Untuk tahun 2004, jelas dia, tercatat sejumlah 15,41 juta orang buta aksara untuk usia 15 tahun ke atas atau 10,2 persen.Karena itu pemerintah menargetkan pada tahun 2009, angka buta huruf bisa turun menjadi 5 persen. Tahun ini saja, kata Bambang, angka buta huruf sudah turun menjadi 12,24 juta orang atau 7,49 persen."Kita masih punya waktu untuk berupaya menurunkan angka buta huruf di Indonesia," imbuhnya.Berdasarkan data Depdiknas yang disampaikan Bambang, angka buta huruf yang masih tinggi terdapat di wilayah Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTT, NTB, Kalbar, Sulsel, Maluku dan Papua. Sedangkan wilayah Jabar dan hampir semua provinsi di Sumatera, rata-rata angka buta huruf turun hingga 5 persen.Di tempat yang sama, Menteri Agama Maftuh Basyuni mengatakan bahwa sejumlah sekolah yang dikelola di lingkungan Depag juga mengalami peningkatan. Hingga saat ini, sudah 58,8 persen dari anggaran pendidikan di lingkungan Depag yang totalnya Rp 3,5 trilliun yangdialokasikan.Dari catatan Depag, ujarnya, siswa madrasah ibtidaiyah (MI) mencapai 2.996.375 orang dari 22.610 sekolah MI di seluruh Indonesia. Sementara untuk siswa madrasah tsanawiyah mencapai 2.221.595 orang dari 12.498 sekolah. Begitu juga di Pondok Pesantren Salafiyah, dimana tercatat 588.908 santri dari 7.057 ponpes se-Indonesia.Untuk penanganan buta huruf, kata Maftuh, Depag sebenarnya juga membantu Depdiknas. Masalahnya, menurut dia, banyak lulusan santri yang sudah merasa cukup bisa membaca dengan huruf arab saja."Ini yang perlu kita coba untuk upayakan agar mereka mau belajar dengan menggunakan huruf latin, dengan program pendidikan Paket A dan Paket B," tutur Maftuh. (zal/nvt)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads