Rektor ISI Tetap Men-DO, Mahasiswa Nekat Gelar Aksi
Selasa, 18 Sep 2007 13:10 WIB
Yogyakarta - Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Dr Soeprapto Soejono, MFA tetap men-drop out (DO) mahasiswa Angkatan 2000 yang habis masa studinya. Akibatnya puluhan mahasiswa ISI menggelar kembali aksi demo di depan rektorat di Jl Parangtritis KM 6,5 Sewon Bantul.Aksi yang digelar Selasa (18/9/2007), mahasiswa menolak SK yang membuat mahasiswa harus DO. Mahasiswa menuntut bisa kembali ke bangku kuliah hingga selesai. Sebab mahasiswa ISI Angkatan 2000 berpedoman masa studi mereka adalah 15 semester, bukan 14 semester.Dalam aksi itu di teras rektorat, mahasiswa sudah tidak melakukan penyegelan seperti aksi yang lalu. Berbagai tulisan "gedung ini disegel" yang menempel di kaca pintu depan sudah dibersihkan. Dalam aksi hari ini, satpam kampus langsung menutup pintu kaca bagian depan. Sedang pintu belakang rektorat tetap dibiarkan terbuka. Beberapa dosen, karyawan dan satpam hanya menyaksikan jalannya aksi dari balik kaca.Satu patung celeng (babi hutan) terbuat dari kertas setinggi 2 meter danpanjang 3 meter ditaruh di depan pintu masuk rektor. Mahasiswa mengelar orasi di teras sambil meneriakkan yel-yel "tolak SK DO Rektor ISI". Beberapapeserta aksi memukul gendang dan dua seng bekas sehingga menimbulkansuara yang gaduh.Koordinator aksi, Hartadi Wresni, kepada wartawan di sela-sela aksi mengatakan, pihaknya akan terus menggelar aksi sampai perjuangan berhasil. Mahasiswa menuntut Rektor ISI mencabut surat keputusan untuk mengundurkan diri dari mahasiswa ISI angkatan 2000 yang belum menyelesaikan studi hingga akhir Juli 2007.Menurut Wresni, pertemuan yang dilakukan pada hari Senin 17 September kemarin yang dihadiri Rektor ISI Soeprapto Soejono bersama para pembantu rektor, dekan dan 5 wakil mahasiswa tidak membuahkan hasil. Rektor tetap akan men-DO mahasiswa dan tidak akan mencabut SK rektor mengenai pembatasan masa studi mahasiswa angkatan 2000. "Kalau rektor tetap tidak mencabut, kami juga akan terus menggelar aksi sampai kami bisa kuliah lagi," katanya.
(bgs/nrl)











































