Kelompok Bertopeng Menyerang, Perbatasan Atambua Bergolak
Jumat, 14 Sep 2007 13:01 WIB
Kupang - Situasi perbatasan Kabupaten Belu dan Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur mencekam setelah sekelompok warga bertopeng menyerang warga Desa Lotas Kecamatan Rinhat, Kabupaten Belu. Mereka juga membakar tiga rumah penduduk, menjarah ternak dan menculik mantan Kesa Desa Lotas, Daniel Bobe bersama isterinya. Kelompok penyerang diduga adalah warga Kabupaten Timor Tengah Selatan yang menetap di dekat wilayah itu. Belum diketahui secara pasti penyebab penyerangan itu, namun sejumlah pihak menduga kasus tersebut merupakan puncak dari kekecewaan masyarakat akibat masalah perbatasan kabupaten yang belum dituntaskan.Camat Rinhat, Gaudensius Klau, yang dihubungi melalui telepon selulernya, Jumat (14/9/2007) mengatakan, kelompok penyerang mulai melakukan aksinya sejak Senin lalu, dan terus berlangsung sampai dengan saat ini. "Sudah empat hari, warga Desa Lotas hidup dalam situasi terancam. Perbatasan kedua kabupaten mencekam karena kelompok bertopeng menyerang pada saat dini hari dan warga takut keluar rumah. Saya tidak tahu latar belakang penyerangan ini, apakah murni tindakan kriminal atau atau ada kaitan dengan masalah perbatasan," kata dia. Kapolres Belu AKBP Mulyadi Kaharni kepada wartawan di Atambua mengatakan masalah tersebut terjadi akibat warga kedua kabupaten yang bermukim di wilayah Lotas saling mengklaim sebagai pemilik hak atas tanah di desa tersebut. "Tim dari pemerintah provinsi NTT pernah memfasilitasi pertemuan untuk menyelesaikan masalah tapal batas, tetapi mungkin ada pihak yang tidak puas sehingga terjadilah aksi penyerangan itu," jelas Mulyadi. Sumber dari Biro Tata Pemerintahan Sekertariat Daerah NTT yang dihubungi terpisah mengatakan masalah tapal batas kedua kabupaten sudah diselesaikan. "Masalah itu tidak ada kaitan dengan tapal batas karena sudah diselesaikan beberapa bulan lalu," kata dia.
(asy/asy)











































