Korban Gempa Bengkulu Kesulitan Air di Pengungsian

Korban Gempa Bengkulu Kesulitan Air di Pengungsian

- detikNews
Jumat, 14 Sep 2007 09:39 WIB
Jakarta - Sebagian besar warga korban gempa Bengkulu masih menetap di pengungsian seperti di Air Sebakul dan Sawah Lebar. Mereka menganggap tempat itu dapat melindungi mereka dari bahaya tsunami. Namun salah seorang warga Bentiring memilih kembali ke rumahnya karena merasa tidak betah di pengungsian.Adalah Rina, seorang warga Bentiring, Bengkulu, yang rumahnya ikut rata dengan tanah akibat gempa yang telah meluluhlantakkan kota tersebut. Sulitnya untuk makan dan melakukan MCK di pengungsian membuat Rina rindu akan tempat tinggalnya. Rina pun memutuskan kembali ke rumahnya, meskipun letaknya hanya 5 meter dari bibir pantai."Kalau di rumah kan bisa pakai air sesuka-suka kita. Di rumah itu ya...lebih enak saja. Sekalian jagain rumah walaupun sudah ambruk, daripada di pengungsian banyak isu tsunami kan ngeri," kata Rina saat berbincang dengan detikcom, Jumat (14/7/2007).Dia mengatakan, telah kembali ke rumahnya sebelum sahur hari kedua Ramadan ini. Santap sahur pun hanya dengan makanan seadanya seperti mie instan dan nasi putih. Tukang jualan makan yang biasanya berkeliaran sepi."Kita makan mie sama nasi saja. Dimasak sendiri juga di luar rumah," imbuhnya.Selain susahnya mendapatkan makanan, aktivitas seperti kerja dan sekolah pun terhenti. Dia mengatakan banyak bangunan sekolah yang ambruk dan retak."Banyak juga bangunan yang retak-retak, jadi nggak berani ke dalam bangunan. Seperti rumah, sekolah," ujar dia.Rina sangat berharap bantuan datang. Karena sejak pasca gempa pertama Bengkulu pada 12 September, bantuan belum ada yang datang, baik ke daerah tempat tinggalnya maupun ke pengungsian.Dia menambahkan, penyakit batuk sudah mulai menjangkit anak-anak. "Mungkin karena kena debu bangunan. Kan beda kayak kita yang sudah dewasa, lebih kuat," ujarnya. (ptr/sss)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait