SBY: Pencabutan Peringatan Tsunami Perlu Dianalisis
Kamis, 13 Sep 2007 21:07 WIB
Jakarta - Peringatan tsunami yang sempat dicabut dan diumumkan kembali beberapa kali oleh Badan Meterologi dan Geofisikia (BMG) dalam gempa yang terjadi di Bengkulu sempat membingungkan masyarakat. Namun menurut Presiden SBY, proses tersebut memang demikian adanya. "Setiap ada gempa apalagi lebih dari 6 SR itu harus dianalisa jadi bukannya membingungkan. Karena memang harus dianalisa," kata SBY dalam jumpa pers di Pangkalan Militer Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (13/9/2007). SBY mengatakan, setiap terjadi gempa ada waktu untuk pemerintah menentukan apakah gempa berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak. Jika sudah melewati masa waktu, maka pemerintah akan mencabut tsunami.Kepala Badan Meterologi dan Geofisika Sri Woro Budiati Harijono mengatakan, proses penyebaran informasi tsunami bisa dilakukan dengan cepat dalam waktu 4 menit, namun pencabutan peringatan tsunami memang perlu waktu hingga 2 jam sejak gempa pertama."Kami mengkhawatirkan ada tsunami pantulan yang terjadi akibat pantulan gelombang laut dari pusat gempa ke Pulau Sumatera dan berbalik kepulau-pulau kecil di bagian barat Sumatera," ujarnya. Menurut dia, setelah gempa pertama gelombang laut naik 0,5 meter pada pukul 19.00 WIB dan naik lagi 1 meter pada pukul 21.00. Namun hal ini tidak disebut sebagai gelombang tsunami yang bisa merusak.
(ptr/gah)











































