No Pain No Gain pada Teknologi
Rabu, 12 Sep 2007 14:52 WIB
Jakarta - Ledakan yang terjadi di Batan kompleks Puspitek, Serpong, Tangerang, tidak boleh membuat masyarakat resisten terhadap teknologi maju. Karena risiko yang dihadapi dari teknologi itu sebanding dengan manfaatnya. "No pain no gain, kita tidak mungkin mendapat profit yang tinggi kalau kita bersikap risk avoider. Orang yang bermain pada tingkat profit yang tinggi biasanya juga siap menanggung risiko yang tinggi," kata Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Lukman Hakim.Hal ini disampaikan dia usai seminar bertajuk 'Indikator IPTEK Indonesia, Evaluasi Pemanfaatan serta Pengembangan Konsep ke Depan', di Gedung LIPI, Jl Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Rabu (12/9/2007).Ledakan yang terjadi di Batan, lanjut dia, merupakan pelajaran bagi Indonesia yang masih mengembangkan teknologi maju. Risiko seperti apa pun tidak dapat dihindari."Risiko tidak bisa dihindari tapi bagaimana mengelola risiko itu," ujarnya.Dia menjelaskan, di setiap laboratorium biasanya sudah ada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang disepakati. Peneliti pun dibekali serangkaian pengetahuan dan ketrampilan teknis dalam melaksanakan pekerjaannya. Menurutnya, risiko adalah bagian dari pekerjaan peneliti."Lihat saja peneliti ada yang bekerja dengan virus. Itu berbahaya, makanya jangan melihat pekerjaan peneliti yang enak-enak saja. Mereka juga berkeringat dan berdarah," imbuh Lukman.Ledakan di Batan terjadi saat dilakukan uji laboratorium bahan bakar biodiesel nonradiasi pada Senin 10 September pukul 15.30 WIB. Empat peneliti mengalami luka bakar akibat insiden ini.
(ptr/nrl)











































