Menag: Awal Syawal Berbeda, Umat Jangan Pecah!
Selasa, 11 Sep 2007 20:23 WIB
Jakarta - Pemerintah dan seluruh ormas Islam sepakat menetapkan awal Ramadan jatuh pada Kamis, 13 September. Namun, ormas-ormas Islam berbeda dalam penetapan awal Syawal 1428 H.Perbedaan penetapan awal Syawal di antara ormas Islam diharapkan tidak memicu perpecahan."Kita sudah punya pengalaman perbedaan awal Syawal seperti tahun lalu. Harapannya, kalau tidak terjadi kesamaan, jangan itu dijadikan sebagai modal perkelahian. Jadi satu sama lain harus saling menghormati," kata Menag M Maftuh Basyuni.Hal itu dikatakan Maftuh, dalam sidang isbat penetapan awal puasa di kantor Depag, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa (11/9/2007).Menurut Maftuh, diputuskannya awal Syawal yang dikemukakan oleh berbagai ormas Islam harus dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Karena lanjut dia, setiap ormas Islam memiliki metode yang saling berbeda dalam penetapan awal bulan.Sementara itu, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfir dan Iklim dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan, adanya perbedaan dalam penentuan awal Syawal karena masing-masing organisasi Islam memiliki perbedaan kriteria ."Muhammadiyah menetukan awal Syawal jika sudah ada wujudul hilal, meskipun sebagian. Sementara Persatuan Islam (Persis), wujudul hilal harus dilihat di seluruh Indonesia. Sedangkan NU awal bulan terjadi jika hilal sudah mencapai minimal 2 derajat," ujar Thomas.Thomas menambahkan, Muhammadiyah sendiri sudah menentukan awal Syawal pada 12 Oktober. Sedangkan Persis pada 13 Oktober sambil menunggu wujudul hilal di seluruh Indonesia. "Kalau NU, ya biasa menunggu rukyat," tandasnya.
(rmd/aba)











































