Sidang Isbat 17.00 WIB, Teknologi Informasi Dilibatkan

Sidang Isbat 17.00 WIB, Teknologi Informasi Dilibatkan

- detikNews
Selasa, 11 Sep 2007 06:39 WIB
Jakarta - Dalam penentuan 1 Ramadan, pemerintah memang selalu menggelar sidang isbat. Namun ada yang berbeda dalam penentuan awal Ramadan kali ini. Apa itu?Jika biasanya sidang isbat hanya melibatkan prmas Islam dan jajaran Depag, kini untuk mengambil keputusan, dalam sidang dilengkapi seperangkat alat teknologi informasi dan komunikasi (TIK).Rencananya, sidang isbat akan dipimpin Menag Maftuh Basyuni pada Selasa (11/9/2007) pukul 17.00 WIB."Depkominfo tidak dalam kapasitas ikut memutuskan, tapi hanya sebagai suporting berkait dengan membantu untuk bisa melihat hilal dengan bantuan TIK. Keputusan tentang jatuhnya awal atau nanti akhir Ramadhan sepenuhnya ada di Departemen Agama," kata Menkominfo Mohammad Nuh dalam keterangan tertulisnya yang diterima detikcom.Ada lima titik pantauan yang dilengkapi dengan TIK. Daerah aitu adalah di Makassar yang dipusatkan di Tanjung Bunga JTC; Jawa Timur di Tanjung Kodok, Lamongan; Semarang di Masjid Agung Semarang; Bandung di Observatorium Boscha, Lembang; dan NAD, di Pantai Lok Ngah.Selama ini hilal dilihat oleh perseorangan baik melalui mata telanjang atau pun alat bantu terpong, yang kemudian dibuat pernyataan melalui mekanisme sumpah. Kini, dengan TIK, apa yang dilihat oleh persorangan itu bisa dipancarluaskan atau dilihat secara bersama-sama oleh khalayak, melalui mekanisme alat bantu teropong digital yang kemudian bisa ditransfer melalui web dan bisa dipancarluaskan melalui televisi.Bahkan, hasil pengamatan atau detik-detik munculnya hilal juga bisa diamati dari detik ke detik dan sekaligus dapat direkam.Penggunaan TIK ini bertujuan agar di masa depan diharapkan tidak ada lagi perdebatan atau perbedaan dalam menentukan awal dan akhir Ramadan. Sebab dengan bantuan TIK, hilal tidak lagi menjadi sesuatu yang eksklusif, melainkan bisa disaksikan oleh siapa saja melalui televisi dan jaringan internet."Muncul dan tenggelamnya bulan yang menjadi pertanda dalam penanggalan Islam, merupakan gejala atau fenomena alam (sunatullah) dan bersifat tetap," imbuh M Nuh.Selama ini, melihat hilal baru sebatas pada kemampuan individu dengan segala peralatan konvensionalnya, sehingga hasilnya kerap mengundang perdebatan. Dengan penggunaan teknologi ini, perbedaan sesama umat Islam dalam menentukan awal dan akhir Ramadan bisa diminimalkan."Jadi ini bukan melihat (hilal) untuk dipaksakan ada atau di ada-adakan, tapi melihat kondisi riil. Itu pun masih sangat bergantung pada dimana tempat pengamatan dan bagaimana kondisi cuaca saat itu," lanjut M Nuh.Ditambahkan dia, upaya melihat hilal dengan bantuan TIK bukan untuk mendemonstrasikan kecanggihan teknologi dan keilmuan, namun agar manusia bisa memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan masyarakat. (nvt/irw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads