Laporan dari Sydney
SBY Bolehkan Mahasiswa Tetap Bekerja di Luar Negeri
Senin, 10 Sep 2007 08:59 WIB
Sydney - Presiden SBY menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada mahasiswa yang belajar di luar negeri apakah kembali ke Indonesia atau tetap di luar negeri. Namun, SBY memiliki sejumlah saran. Termasuk, apabila negara memanggil pulang, maka mahasiswa itu pun harus pulang. Pernyataan SBY ini disampaikan saat menerima para peserta konferensi pelajar dan mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri di Ball Room Hotel Four Seasons, George St, Sydney, Senin (10/9/2007). Presiden SBY tidak mau terjebak dalam makna nasionalisme yang sempit. SBY menanggapi tema konferensi para mahasiwa itu: kembali ke Indonesia atau mengabdi dari jauh. "Tidak perlu gundah untuk bekerja di luar negeri, asalkan semua tetap mencitai negara Indonesia dan memberikan dedikasi kepada bangsa," kata SBY. Mengenai hal ini, SBY melihatnya dengan jernih dan berpikiran positif. Dia mengibaratkan bunga mawar. "Bunga mawar memang banyak duri. Tapi, kita jangan lihat durinya. Lihatlah kelopaknya, bahwa bunga mawar ini indah. Jangan dijauhi," kata dia. Ada tiga hal yang dipesankan SBY kepada para mahasiswa yang tetap memilih bekerja di luar negeri. Pertama, SBY meminta agar mereka tidak memperolok diri sendiri dan menjelekkan bangsa sendiri. Kedua, mereka menjadi duta bangsa untuk pencitraan yang baik. Ketiga, melakukan jejaring global antara luar negeri dengan Indonesia, seperti yang dilakukan Cina dan India. Pembebasan Fiskal akan DibahasPresiden SBY juga mengakomodir rekomendasi konferensi mahasiswa itu, terutama mengenai pembebasan fiskal bagi mahasiswa ke luar negeri. "Saya tidak berjanji, tapi masalah ini akan kami bahas. Nanti masalah ini dikoordinasikan dengan Dirjen Pajak," kata dia. Mengenai pinjaman lunak bagi mahasiswa di LN, SBY juga menyambut baik. SBY memerintahkan kepada Menteri Perekonomian Boediono untuk menindaklanjutinya. Begitu juga dengan permintaan agar akreditasi ijazah dipermudah, SBY meminta Mensesneg Hatta Rajasa menyampaikan masalah itu kepada Mendiknas Bambang Sudibyo. "Kalau bisa dipermudah, untuk dibuat sulit," ujar dia.
(asy/asy)











































