Laporan dari Sydney
Mahasiswa RI di LN: Pulang atau Mengabdi dari Jauh?
Senin, 10 Sep 2007 08:45 WIB
Sydney - Para mahasiswa Indonesia yang ada di luar negeri menggelar Konferensi Pelajar Internasional di Sydney, Australia. Mereka membahas mengenai dilema setelah mereka lulus: pulang ke Indonesia atau mengabdi dari jauh? Konferensi ini digelar sejak Sabtu (8/9/2007) hingga Minggu (9/9/2007) malam di Kampus University of New South Wales. Hasil konferensi mereka sampaikan kepada Presiden SBY dalam pertemuan di Ball Room Hotel Four Seasons, George St, Sydney, Senin (10/9/2007). Konferensi ini dihadiri oleh sekitar 200 pelajar Indonesia yang belajar di beberapa negara. Namun, dua pilihan ini memang sama-sama sulit. Mereka ingin kembali ke Indonesia, namun lapangan kerja sangat sempit. Sementara bila tetap berada di luar negeri dan bekerja, stigma bahwa mereka antinasionalisme muncul. Dilema ini memang belum terpecahkan. Konferensi ini menghasilkan beberapa rekomendasi kepada pemerintah. Antara lain, mahasiswa di luar negeri akan memperluas jejaring mereka dengan membuat website atau mailing list. Mereka juga meminta pemerintah mendayagunakan aset intelektual anak bangsa yang belajar di luar negeri dan melakukan promosi kerja dengan negara lain. Salah satu hal penting yang juga ikut mereka rekomendasikan adalah dibebaskanya fiskal bagi mahasiswa yang belajar di luar negeri dan adanya pinjam lunak. Mereka juga meminta agar prosedur akreditasi ijazah mahasiswa lulusan luar negeri dipermudah. Mahasiswa Bergaji $ 20/Jam Para mahasiswa Indonesia di luar negeri memang sulit memilih dua pilihan: tetap di luar negeri atau pulang ke Indonesia. Sebab, pekerjaan di luar negeri lebih menggiurkan, karena bergaji besar. Dhyka misalnya. Mahasiswa S2 yang belajar di salah satu universitas di Sydney ini mengaku bisa membiayai sendiri kuliahnya dengan kerja part time. "Saya bekerja di toko kamera. Gaji lumayan, per jam $ 20," kata Dhyka kepada detikcom. Bila $ 1 = Rp 7.000, maka gaji Dhyka per jam Rp 140.000. Aturannya dalam seminggu, mahasiswa yang berstatus international student hanya diperbolehkan bekerja maksimal 20 jam per minggu. "Bila ditotal, mungkin sebulan saya bisa mendapatkan $ 1.400," ujar dia. Dhyka juga sudah memiliki rencana setelah lulus dua bulan mendatang. "Kemungkinan saya akan bekerja dulu di Australia selama dua tahun untuk mencari pengalaman," kata dia.
(asy/asy)











































