Laporan dari Sydney
WNI Bisa Jadi Polisi Australia
Senin, 10 Sep 2007 07:25 WIB
Sydney - Pria ini bernama Halah Abdullah. Dari wajahnya, pria 32 tahun ini mudah dikenali sebagai orang Indonesia. Tapi, bisa jadi orang akan ragu kalau dia adalah orang Indonesia. Maklum, pekerjaan Halah adalah polisi. Dia anggota New South Wales Police (NSWP). Namun, ketika detikcom mendekati Halah, eh ternyata pria ini memang warga Indonesia. Dia keturunan Majalengka-Ambon. Ibunya dari Majalengka, ayahnya dari Ambon. "Tapi, saya sudah 20 tahun di sini," aku Halah di sela-sela melakukan pengamanan VVIP delegasi KTT APEC 2007, Minggu (9/9/2007) kemarin. Menjadi polisi memang sudah jadi pilihan Halah. Tidak masalah orang asing menjadi polisi di Australia. "Saya masih berkewarganegaraan Indonesia. Tapi status saya di sini permanent resident," kata alumnus Akademi Polisi yang beristrikan warga Australia ini. Menurut Halah, sangat jarang memang orang Indonesia menjadi polisi di Australia. Setahu Halah, hanya ada dua orang. Meski begitu, dalam melakukan tugasnya, Halah tidak canggung dengan polisi lainnya. "Biasa-biasa saja. Karena kami memang sudah saling mengenal. Saya tidak pernah diremehkan," kata polisi yang bulan depan akan naik pangkat menjadi senior detective ini. Halah yang beragama Islam ini juga tidak pernah memiliki masalah dalam melakukan tugasnya sebagai polisi. Dia tidak pernah dikucilkan dan mengalami perlakuan diskriminatif dari rekan-rekannya selama polisi. "Selama ini pemahaman orang Indonesia terhadap Australia kurang pas. Kalau mereka sudah mengetahui benar Australia, tentu tidak ada masalah," kata pria yang menjadi polisi sejak lima tahun lalu itu. Polisi di negara bagian New South Wales memang bergaji tinggi. Saat awal-awal menjadi polisi, Halah mendapat gaji sekitar Rp 24,6 juta per bulan. Kalau ada tugas lembur, Halah masih mendapat tambahan honor lagi. Menjelang KTT APEC 2007, Halah terpilih sebagai salah satu polisi yang melakukan pengamanan VVIP. Setelah menjalani training, setiap polisi yang terlibat dalam pengamanan VVIP ditanya oleh pimpinannya untuk memilih kepala negara atau kepala pemerintahan yang dikehendaki. "Ya saya memilih Presiden Indonesia. Komandan menanyakan apa alasannya. Ya saya jawab saya bisa bahasa Indonesia," kata pria yang mengaku selalu membaca detikcom setiap hari ini.
(asy/nrl)











































