Tarif Tol Naik, Kok Hasil Survei Malah Memuaskan

Tarif Tol Naik, Kok Hasil Survei Malah Memuaskan

- detikNews
Minggu, 09 Sep 2007 16:37 WIB
Jakarta - Kenaikan tarif tol dikeluhkan warga. Kondisi dan pelayanan yang minim sudah jadi rahasia umum. Namun hasil survei Indonesia Development Research (IDM) justru menunjukkan hal sebaliknya. "Melalui survey dua dimensi pengukuran yang dinilai yaitu kebutuhan dan performance yang berujung pada tingkat kepuasan konsumen, pengguna jalan tol di daerah DKI dan sekitarnya merasakan kepuasan yang signifikan selama ini," kata Direktur Eksekutif IDM Munathsir Mustaman.Hal itu disampaikanya dalam jumpa pers hasil survei IDM mengenai kepuasan penggunaan jalan tol terhadap kebutuhan dan performance jalan tol di Hotel Mega Cikini, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Minggu (9/9/2007).Dari 1.200 responden, 80 persen di antaranya mengaku jalan tol sangat dibutuhkan. Sedangkan yang merasa tidak butuh sebanyak 0 persen, alias tidak ada. Untuk kenyamanan, hanya 20 persen yang merasa buruk, sedangkan 65,9 persen merasa nyaman.Menurut ekonom IDM Arif Poyuono, tol dibutuhkan untuk mengatasi masalah kecepatan ke lokasi yang dituju. "Walau macet, tapi tol lebih cepat. Itulah kepuasannya," ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Presidium FSP BUMN Bersatu itu.Terkait kenaikan tarif tol yang rutin dilakukan 2 tahun sekali, lebih dari separuh responden menyatakan setuju. Responden yang tidak setuju sebanyak 34,1 persen, dan 10,9 persen abstain."Kenaikan tarif tol yang dilakukan 2 tahun sekali berdasarkan inflasi yang terjadi pada tahun tersebut. Menurut hasil survei tidak berpengaruh pada jumlah pendapatan masyarakat per bulannya," kata Munathsir Mustaman.Hasil survei ini jelas sangat kontras dengan apa yang ramai dibicarakan publik akhir-akhir ini. Muncul pertanyaan, apakah survei ini didanai pemerintah?"Kita tidak bicara itu. Dari sisi ekonomi tol membawa manfaat yang sangat besar," kilah Arif.Arif mengatakan, kenaikan rutin tarif dapat menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Dengan pembukaan jalan tol yang baru maka ekonomi akan semakin berkembang."Hitung-hitung ekonomi. Biaya bensin kalau lewat jalan umum bisa 5x lipat daripada lewat tol. Kalau macet bensin lebih boros. Lalu kalau tol dibangun akan menumbuhkan lapangan pekerjaan," jelas Arif.Survei ini dilakukan awal Agustus 2007 hingga 27 Agustus 2007 dan melibatkan 20 persen masyarakat yang tidak menggunakan tol. Pertimbangannya, mereka senang banyak kendaraan menggunakan jalan tol sehingga kemacetan di jalan biasa lebih berkurang.Survei tidak hanya dilakukan di DKI Jakarta, tetapi juga di kota lain, yaitu Medan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Namun tidak dijelaskan perbandingan jumlah responden di 6 wilayah tersebut.Pengelompokan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu pengguna kelas atas, kelas menengah dan kelas atas. Umur responden 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. (fiq/ana)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads