Laporan dari Sydney
SBY Gendong Wollemy Pine
Minggu, 09 Sep 2007 15:11 WIB
Sydney - Presiden SBY mendapat hadiah dari Menteri Luar Negeri (Menlu) Australia Alexander Downer terkait dengan kesepakatan masalah kehutanan antara Indonesia dan Australia. Hadiah itu bernama Wollemy Pine. SBY pun menggendongnya. Jepret, jepret! Presiden SBY sambil menggendong Wollemy Pine berpotret bersama Downer. Suasana foto bersama itu memang cair. Bahkan Presiden SBY dan Downer pun selalu tersenyum. "Ih, terlihat lucu," kata salah seorang wartawan Australia. Wollemy Pine merupakan sebuah nama pohon/tanaman. Wollemy Pine dikenal sebagai pohon pinus tertua yang ditemukan di benua Australia dan merupakan lambang konservasi alam. "Sebagai simbol dari acara penandatangan kerja sama ini, saya ingin Menteri Lingkungan untuk mempersembahkan kepada Presiden SBY, bibit pohon pinus. Kita kembali ke zaman periode jurasik, ha ha," kata Downer seusai penandatanganan MoU mengenai kehutanan di Hotel Four Seasons, Sydney, Minggu (9/9/2007), seperti dilaporkan wartawan detikcom Arifin Asydhad. SBY pun menerima pohon itu dengan senang hati. Kerja sama kehutanan ini, menurut Downer, merupakan yang pertama kali dilakukan Australia. "Saya yakin ke depan akan lebih banyak lagi proyek yang tidak saja melibatkan pemerintah, tapi juga sektor swasta juga akan menjadi komponen penting," ujar Downer. Downer bercerita bahwa sebenarnya MoU ini berawal dari pembicaraan dirinya dengan Menlu Hassan Wirajuda di Manila beberapa waktu lalu. "Kita akan merehabilitasi sekitar 200 ribu hektar lahan di Indonesia," kata dia. Sementara itu, dalam sambutannya, Presiden SBY menegaskan pentingnya menjalin kemitraan dengan Australia. "Australia adalah negara yang bisa diandalkan untuk diajak bekerja sama, tidak hanya untuk kepentingan dalam negerinya saja tetapi juga untuk berkontribusi bagi kesejahteraan kawasan Asia Pasifik dan dunia pada umumnya," kata SBY. Presiden SBY juga menekankan tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan, khususnya di Kalimantan dan juga spesies di dalamnya yang hampir punah seperti orangutan. "Kalimantan yang dimiliki Indonesia, manfaat dari keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya, dapat dirasakan oleh seluruh negara di dunia. Kehancuran dari keanekaragaman hayati ini maka berarti hilangnya banyak kesempatan untuk meningkatkan kondisi umat manusia," tegas SBY yang membacakan teks pidatonya itu. Presiden juga menambahkan akan pentingnya kerja sama ini dalam mengatasi masalah perubahan iklim. "Kerja sama ini menjadi penting dari seluruh usaha, sebagai respons kita akan tantangan perubahan iklim. Dengan demikian hal tersebut merupakan semangat Deklarasi Sydney yang baru saja kita terapkan dalam konferensi ini," jelas dia.
(asy/asy)











































