RI-Rusia Jajaki Kerja Sama Pertahanan
Kamis, 06 Sep 2007 18:00 WIB
Jakarta - Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto mengakui Indonesia dan Rusia saat ini sedang menjajaki kemungkinan kerja sama di bidang pertahanan. Tidak hanya terkait peralatan militer, juga soal kerja sama latihan antara personel militer kedua negara."Di luar itu (alutsista), pembicaraan saya dengan Kepala Staf Gabungan mereka adalah peluang-peluang untuk mengikuti pendidikan dan latihan di sana. Paling tidak, secara teknis untuk meningkatkan pengetahuan operasional, teknis, manajemen, pasukan-pasukan khusus, mereka welcome," kata Djoko Suyanto usai serah terima jabatan Pangkohanudnas dari Marsda Eris Herryanto kepada Marsda Ganjar Wranegara di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (6/9/2007).Menurut Djoko, pada prinsipnya pihak Rusia sudah menyatakan siap untuk melakukan kerja sama. Hanya saja tinggal ditindaklanjuti di level bawahnya. "Kita coba setelah realisasi dari kunjungan Putin ini, Departemen Pertahanan sudah oke, TNI baru melaksanakan," jelasnya.Untuk itu ke depannya, lanjut Djoko, TNI tidak hanya akan menjalin kerja sama militer atau pertahanan dengan AS dan Australia saja. Selama ini, selain dengan AS dan Australia, TNI menjalin kerja sama pelatihan bersama dengan Malaysia, Singapura, Korea Selatan dan sejumlah negara ASEAN lainnya.Dijelaskan Djoko, bentuk kerja sama pertahanan yang akan dilakukan dengan Rusia misalnya pelatihan spesialisasi pilot pesawat, spesialisasi pilot kapal selam. Selain itu, juga diusahakan peningkatan kemampuan manajemenperwira dengan bersekolah setingkat Lemhannas di Indonesia."Ditambah mungkin peningkatan kemampuan pasukan khusus. Jadi selain hardware, ada juga peningkatan kapasitas pasukan," ujar Djoko.Terkait pernyataan Menhan Juwono Sudarsono tentang imbal beli alutsista dengan komoditas batubara, menurut Djoko, yang dimaksudkan Menhan dengan imbal beli itu dalah memberikan kesempatan bagi pemerintah dan pengusaha Rusia untuk berinvestasi dalam eksplorasi batubara di Indonesia, bukan menukar komoditas batubara dengan alutsista."Imbal belinya bukan seperti dulu, yang ditukar dengan komoditas. Tapi mereka investasi di sini, kemudian di situlah kita dapat. Tapi itu kan baru pemikiran dari kita Indonesia. Apakah itu akan diterima Rusia? Tentu Departemen ESDM, Menteri Keuangan, Menteri Pertahanan harus merembukkan dulu," jelas Djoko.Ditanya lebih lanjut apakah kunjungan Presiden Rusia ini terkait dengan realisasi pinjaman negara sebesar US$ 1 miliar, Djoko mengatakan, sebenarnya kredit itu i sudah dirintis sejak dua tahun lalu, yaitu mulai tahun 2005 lalu."Jadi, kalau itu bisa direalisasikan, paling tidak itu bisa memperkuat kemampuan kita seperti yang sudah kita beli sebelumnya. Kan baru sebagian kecil yang kita beli. Misalnya Mi-35 milik AD, Mi-17, kendaraan amfibi untuk AL, Sukhoi untuk AU, itu semua kan masih belum komplit. Komplit dalam pengertian skuadron operasional dilengkapi dulu. Bukan berarti beli yang benar-benar baru sama sekali," jawab dia.
(zal/asy)











































