Persenjataan Rusia Untuk Jaga Keseimbangan
Rabu, 05 Sep 2007 19:27 WIB
Jakarta -
Setidaknya sampai 15 tahun ke depan, kebutuhan alat utama sistem persenjataan milik TNI akan diadakan dari produk negara-negara Eropa Timur. Khusus untuk alat pemukul, menggunakan buatan Rusia.Tujuannya mengimbangi kekuatan militer negara-negara tetangga yang menggunakan produk AS dan Eropa. Namun tidak akan menjurus pada perlombaan senjata yang bisa mengancam stabilitas ASEAN.Demikian disampaikan Menhan Juwono Sudarsono mengenai program pengadaan alutsista buatan Rusia. Dari tahun ke tahun, nilai anggarannya meningkat dan makin bervariatif item-nya."Pengadaan Pesawat Sukhoi ini untuk mengimbangi F18 yang akan dimiliki Australia, Singapura dan Malaysia. Jadi harus ada kekuatan minimal alat pukul yang setara teknologinya. Kita tidak menuju pada perlombaan senjata," kata Juwono di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Rabu (5/9/2007).Proyek pengadaan alutsista dari Rusia oleh Dephan, dari tahun ke tahun terus meningkat. Tidak lagi sebatas pengadaan skuadron tempur Sukhoi untuk TNI AU, tapi juga untuk alutsista TNI AL dan TNI ADUntuk tahun anggaran 2008, sejumlah proyek pengadaan bernilai trilunan rupiah akan ditenderkan. Seperti pengadaan dua kapal selam kelas Kilo, enam kendaraan tempur Marinir, dan empat helikopter serbu untuk TNI AD.Menhan menjelaskan, pengadaan alutsista dari Rusia merupakan pilihan rasional di saat industri strategis dalam negeri belum bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Sementara bila menggunakan produk AS atau Eropa, selain harganya lebih mahal juga selalu ada hambatan politis yang bisa menyulitkan di masa mendatang."Rusia umumnya tidak rewel soal lisensi, izin dan kerewelan politik. Sedangkan AS dan UE yang biasanya ada 'kerewelan' politik dengan kongres dan parlemen. Dikait-kaitkan masalah HAM, Aceh, Poso atau Papua gitu," urai mantan Dubes RI untuk Inggris ini.Lebih lanjut Juwono menegaskan, pilihan di atas bukan berarti pemerintah lebih condong ke Rusia. Secara jangka panjang, kebijakan pengadaan alutsista demikian membangun keimbangan hubungan antara negara-negara besar yang menjadi mitra strategis RI.Pengadaan peralatan militer buatan AS, UE, Cina atau Australia tetap dilanjutkan sesuai kebutuhan masing-masing angkatan. Tapi merujuk pengalaman pahit embargo senjata dari AS dan sekutunya, dengan sendirinya RI 'menyesuaikan' diri."Misalnya pengadaan pesawat angkut, itu dari AS karena tidak sensitif (dalam sistem persenjataan). Tapi kalo alat pukul (yang lebih sensitif), dari Eropa Timur," pungkas dia.
(lh/mly)










































