'Saudagar Pimpin Partai' Modal Akbar Bertarung di 2009

'Saudagar Pimpin Partai' Modal Akbar Bertarung di 2009

- detikNews
Rabu, 05 Sep 2007 16:57 WIB
Jakarta - Munculnya kalimat 'saudagar memimpin partai' merupakan cara Akbar Tandjung untuk masuk kembali ke kancah politik. Kalimat itu akan menjadi modal Akbar mencalonkan diri menjadi presiden dalam Pilpres 2009."Itu dalam rangka untuk bertarung di 2009. Dia sedang bargaining dengan memainkan kritik," cetus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM Arie Sudjito dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (5/9/2007).Kritik seperti itu sudah dilancarkan Akbar sejak kalah bertarung dengan Jusuf Kalla dalam Munas Partai Golkar untuk memperebutkan kursi Ketua Umum. Sekarang, Akbar kembali mencari momentum untuk mengungkit Jusuf Kalla melalui disertasinya."Jusuf Kalla merupakan simbol baru Golkar yang kebetulan adalah saudagar. Akbar kemudian memainkan kritik itu sebagai alat politik dan modal untuk masuk pertarungan calon presiden 2009," jelas pria yang sedang mengumpulkan bahan untuk disertasinya yang berjudul '3 Partai, 3 Zaman: Studi PKI, Golkar dan PKS' itu.Fenomena saudagar memimpin Partai Golkar, menurut pria yang akrab dipanggil Jito itu, merupakan fenomena umum terjadi. Partai-partai lain juga ada yang dipimpin saudagar."Sebetulnya itu terjadi di berbagai partai. Lihat saja pilkada, rata-rata yang memenangkan adalah saudagar-saudagar," kata Jito.Menurut Jito, terdapat 3 faktor yang mengakibatkan fenomena saudagar memimpin partai itu muncul. Pertama, sistem pengkaderan partai yang buruk membuat rendahnya kualitas calon pemimpin.Ditambah dengan faktor kedua, masyarakat yang pragmatis. Jadilah kemudian pimpinan partai adalah yang dipilih secara pragmatis. Siapa yang kuat modal, akan terpilih menjadi pimpinan partai."Ketiga, karena sistem masyarakat yang kapitalistik, kekuasaan pun cenderung kapitalistik. Dan itu membutuhkan pemimpin yang kapitalistik," urai Jito. (aba/sss)


Berita Terkait