Tomsa, Sang Inspirator Akbar

Tomsa, Sang Inspirator Akbar

- detikNews
Rabu, 05 Sep 2007 16:09 WIB
Tomsa, Sang Inspirator Akbar
Jakarta - Nama Dirk Tomsa mencuat di sela-sela Akbar Tandjung vs Jusuf Kalla. Perkaranya adalah sengatan kata 'saudagar'.Apa peran Tomsa dalam ontran-ontran yang bikin Partai Golkar membara ini? Peran Tomsa sangat penting. Karena Tomsa-lah orang pertama yang membuat teori 'saudagar' itu."Jusuf Kalla terpilih sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar 2004-2009 menunjukkan parpol yang lahir tahun 1964 ini masih dipenuhi orang-orang yang sangat berorientasi pada kekuasaan. Jusuf Kalla meraih pucuk pimpinan bukan lantaran program-program politik yang meyakinkan, tetapi karena menjanjikan akses langsung ke sumber daya pemerintah yang menguntungkan," begitu yang diungkapkan Akbar, mengutip Tomsa.Akbar mengutip Tomsa saat mempertahankan disertasi doktoralnya di depan penguji di kampus UGM, Sabtu 1 September 2007. Akbar yang menulis disertasi berjudul "Partai Golkar dalam Pergolakan Politik Era Reformasi: Tantangan dan Respons" ini berhasil menggondol gelar doktor dengan predikat cum laude.Rupanya pernyataan itu menyengat Jusuf Kalla. Dia merespons, tidak ada larangan saudagar memimpin parpol. "Berpolitik itu butuh dana. Itu trennya," ujar Kalla.Wasekjen Malkan Amin juga bersuara. Dia tertarik mendamaikan Akbar dan JK. Hari ini, Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar Surya Paloh bahkan mengusulkan agar DPP Partai Golkar memanggil Akbar untuk mengklarifikasi.Lalu bagaimana tanggapan Akbar? Akbar saat ini sedang menunaikan ibadah umroh di Makkah. Namun dia tidak keberatan dikonfirmasi wartawan. Akbar menyatakan, dia mengambil tulisan pengamat politik Indonesia dari Australia, Dr Dirk Tomsa, dalam disertasinya."Dia menyebut Golkar masih kuat orientasi kekuasaan, dan JK terpilih bukan karena konsep yang meyakinkan, tapi karena menjanjikan aspek kekuasaan," ucap Akbar.Mengenai kata 'saudagar' yang mengemuka dalam disertasinya, Akbar menjelaskan, dalam Munas Golkar di Bali saat itu ada 3 komponen.Pertama, komponen struktural. Isinya rekan-rekan DPP. Kedua, komponen tradisional, yaitu Kelompok Induk Organisasi (Kino) seperti Kosgoro, SOKSI, dan MKGR. "Kosgoro itu ada Pak Wiranto," ujar Akbar.Lalu yang ketiga, lanjut dia, komponen saudagar. "Bergabung di situ Jusuf Kalla, Surya Paloh, Ical (Aburizal Bakrie), Agung Laksono, dan Fahmi Idris. Itu tulisan surat kabar," beber Akbar.Data tersebut, menurut Akbar, diambilnya dari tulisan Tomsa. "Jadi tulisan dalam disertai saya itu semuanya ada referensinya. Saya tidak asal tulis. Tomsa mengatakan, jangan sampai terjadi hal itu. Kalau itu yang terjadi, Golkar akan mengalami kesulitan," pungkas Akbar.Tomsa adalah ilmuwan kelahiran Hagen, Jerman. Sejak menginjak bangku kuliah, Tomsa mendalami ilmu politik. Gelar master dan doktor diraihnya dari Universitas Melbourne, Australia.Dalam menulis disertasinya tentang Partai Golkar, Tomsa dibimbing oleh Prof Arief Budiman, ilmuwan terkenal dari Indonesia serta Prof Michael Leigh. Disertasi itu menjelaskan mengapa Golkar sulit untuk tetap dominan di Indonesia pasca Orba.Tomsa yang sering bertandang ke Indonesia ini menulis sejumlah publikasi, antara lain berjudul "The End of Centralized Paternalism: How a Gradual Rebellion from the Regions Helped Topple Golkar Chairman Akbar Tandjung" dan "The First 100 Days of Megawati: An Assessment of the New Indonesian Government".Dia juga menulis paper untuk seminar berjudul "Reassessing Party Institutionalization and Democratization in Indonesia: Challenges for the Golkar Party", "Uneven Party Institutionalization in Indonesia: Explaining Golkar's Enduring Dominance" dan "Party Institutionalization in Indonesia: Factionalism and Institutional Integrity in the Former State Party Golkar". (nrl/sss)



Berita Terkait