Tarif Baru Tol Perampok Kocek

detikPolling

Tarif Baru Tol Perampok Kocek

- detikNews
Rabu, 05 Sep 2007 11:21 WIB
Jakarta - Bagaimana tidak dirampok rasanya. Biasanya bayar Rp 1.000, tiba-tiba jadi Rp 6.000. Tanpa sosialisasi memadai. Tanpa peningkatan mutu pelayanan. Hasil detikPolling menyimpulkan tarif baru tol bak perampok kocek.Polling dibuka pada 29 Agustus 2007. Pertanyaan yang muncul adalah, "Tarif baru tol JORR bikin heboh. Pengguna tol syok dan protes. Jalur reguler pun jadi dahsyat kemacetannya. Layakkah kenaikan tarif tol?"Ada dua jawaban yang bisa dipilih, yakni "layak" dan "tidak layak".Hasil polling hingga Rabu (5/9/2007) pukul 11.15 WIB, 15.307 suara telah masuk. Dari total responden, 12.131 suara (79,25%) memilih tidak layak, 3.176 suara memilih layak (20,75%). Selisihnya 58,5 persen.Surprise! Tarif baru tol JORR diberlakukan 28 Agustus 2007. Tarifnya bak naik angkutan umum, jauh-dekat Rp 6.000. Pengguna setia jalan tol JORR pun terkaget-kaget dan tidak terima. Jalan reguler pun jadi macet karena pengguna tol tak sudi merasa dirampok.Namun operator cuek bebek. Jimat yang dipakainya adalah UU 38/2004 tentang Jalan dan PP 15/2005 tentang Jalan Tol yang mengamanatkan kenaikan tarif tol rutin setiap dua tahun sekali sesuai dengan angka inflasi dianggap nonsense karena tidak memasukkan variabel pelayanan.Berbagai pihak menuding operator jalan tol dimanjakan, sedangkan publik dirugikan. Apalagi pelayanan untuk pengguna tol masih buruk. Inflasi yang dijadikan alasan menaikkan tarif tol.Serangan kedua kemudian datang. Tarif baru tol dalam kota berlaku sejak 4 September dengan kenaikan sekitar 20 persen. Belajar dari dampak tarif baru tol JORR, sosialisasi dilakukan beberapa hari sebelumnya dengan spanduk, papan digital, dan papan tarif baru.Tapi kenaikan tarif tol ini juga kena kritik. Apalagi mengingat operator jalan tol sudah mendulang keuntungan hingga Rp 700 juta per hari. Dengan tarif baru, keuntungan mencapai Rp 1,3 miliar per hari.Kalau memang operator sudah balik modal, bahkan untung, bukankah seharusnya sarana publik bisa menjadi lebih murah, bukannya malah menjulang tinggi?Meski demikian polling ini tidak bersifat ilmiah dan hanya mencerminkan opini para pembaca detikcom yang berpartisipasi dalam detikPolling. (sss/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads